bahaya ASBES mengintai kita!

Asbes (asbestos) adalah salah satu bahan tambang yang bisa ditemui dengan mudah di dunia dalam bentuk benang serat atau gumpalan serat. Bahan ini memiliki kekuatan dan ketahanan tinggi, terhadap api, panas serta zat kimia, tetapi tidak bisa diuraikan oleh alam. Merupakan mineral-mineral berbentuk serat halus yang terjadi secara alamiah. Sebagaimana bahan tambang pada umumnya, asbes merupakan batuan yang mampat namun sangat mudah untuk dipisah-pisahkan menjadi banyak sekali serat-serat halus yang umumnya sangat ringan dan mudah terbang. Secara kimia asbes adalah suatu zat terdiri dari magnesium-calsium-silikat berbangun serat dengan sifat fisik yang sangat kuat.

asbes mikrokopis

Ada enam jenis mineral yang dikategorikan asbes yaitu : chrysolite, riebeckite, grunerite, actinolite, anthrophyllite, dan thermolite. Berdasarkan komposisi dan bentuk serat mineral silika ada dua kelompok asbes yaitu :

  1. serpentine yaitu chrysotile, merupakan hidroksida magnesium silikat yang memiliki komposisi Mg6(OH)6(Si4O11)H2O.
  2. dan amphibole yaitu grunerite – asbes amosite atau asbes coklat, riebeckite – asbes crocidolite atau asbes biru, actinolite, thermolite dan campuran yang sekurang-kurangnya mengandung salah satu dari mineral-mineral tersebut.

Ada 4 jenis asbes yang beredar dipasaran saat ini antara lain :

  1. chrysotile, atau asbes putih,
  2. crocidolite atau asbes biru,
  3. amosite atau asbes coklat
  4. anthrophyllite atau asbes abu-abu.

Asbes putih masih digunakan dalam industri dibandingkan dengan asbes coklat dan abu-abu. Asbes biru sudah dilarang penggunaannya.

Asbes merupakan bahan yang cukup ringan, tahan api serta kedap air. Secara luas produk dari asbes antara lain, baju anti panas, pelapis permukaan rem, permukaan plat kopling kendaraan bermotor dan pelapis tekstil dan bahan bangunan.

asbes sering ditemukan di skitar kita, waspadalah!!

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1405/MENKES/SK/XI Tahun 2002, kandungan debu maksimal didalam udara ruangan dalam pengukuran rata-rata 8 jam untuk asbes adalah sebagai berikut, asbes bebas memiliki konsentrasi maksimal sebesar 5 serat/mL udara dengan panjang serat 5 mikrometer.

pengukuran asbestos di udara :

Udara dalam ruangan dialirkan pada suatu alat penghisap dengan volume 1L (1000 cm3) yg dilapisi dgn filter berbahan MCE(mixed cellulose ester) dengan diameter 25mm,lubang pori 0.45 mikrometer . Untuk pengambilan sampel indoor bagi Personal sampelàkecepatan aliran udara yg digunakan 20 mL/menit – 4L/menit ,udara ambient à 2L/menit – 20L/menit

Identifikasi sampel dengan cara TEM (Transmission electron microscphy) dan PCM-based contrast microscophy. Debu atau partikel yang telah tertampung selama 8 jam tersebut dilihat dibawah mikroskop dan dihitung jumlah serat asbesnya. Sehingga diperoleh jumlah serat asbes per 1000 cm3. Menurut standar baku dari SNI untuk asbestos jenis krisotil sebesar 2 serat/cm3 maka dalam ruangan dengan volume sebesar 1 m3 batas minimal asbes yang boleh beterbangan diudara sebesar 2.000.000 serat.

Asbes merupakan zat berbahaya yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan, hal tersebut terjadi apabila debu asbes terhirup. Adapun kegiatan memasang, mematahkan, menggergaji, mengebor, mencampakkan serta menghancurkan bahan yang mengandung asbes juga bisa melepaskan partikel serat asbes ke udara. Hal ini sering diabaikan dikarenakan penyakit yang ditimbulkan oleh partikel asbes ini biasanya baru timbul dalam jangka waktu antara 10 – 50 tahun.

Gejala dari terhirupnya asbes ini ke dalam saluran pernapasan adalah sesak napas ringan dan kesulitan bergerak Sekitar 15% penderita, akan mengalami sesak napas yang berat dan mengalami kegagalan pernapasan. Perokok berat dengan bronkitis kronis dan asbestosis, akan menderita batuk-batuk dan bengek. Menghirup serat asbes kadang-kadang dapat menyebabkan terkumpulnya cairan pada ruang antara kedua selaput yang melapisi paru-paru. Asbes juga bisa menyebabkan tumor pada pleura yang disebut mesotelioma. Mesotelioma bersifat ganas dan tidak dapat disembuhkan. Mesotelioma umumnya muncul setelah terpapar krokidolit, satu dari 4 jenis asbes. Amosit, jenis yang lainnya, juga menyebabkan mesotelioma. Krisotil mungkin tidak menyebabkan mesotelioma tetapi kadang tercemar oleh tremolit yang dapat menyebabkan mesotelioma. Mesotelioma biasanya terjadi setelah pemaparan selama 30-40 tahun. Kanker paru-paru akan terjadi pada penderita asbestosis yang  juga merokok, terutama mereka yang merokok lebih dari satu bungkus sehari. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: batuk, rasa sesak di dada,nyeri dada dan kelainan kuku atau clubbing of fingers (bentuk jari-jari tangan yang menyerupai tabuh gendering-).

asbestos terbukti MEMATIKAN!!

Adapun penanganan pada material asbes adalah sebagai berikut :

  • Mengidentifikasi bahan yang mengandung asbes dan memperhitungkan resiko yang bisa terjadi.
  • Jauhkan anak-anak dari daerah yang mengandung material asbes
  • Menggunakan perlengkapan yang diperlukan seperti masker dan APD , kacamata,sarung tangan dan pakaian ganti.

Menyiram material yang mengandung asbes untuk mengurangi debu

  • Meminimalkan jumlah orang yang kontak dengan material asbes
  • Dimasukkan dalam wadah tertutup

Asbestosis dapat dicegah dengan mengurangi kadar serat dan debu asbes di lingkungan kerja. Karena industri yang menggunakan asbes sudah melakukan kontrol debu, sekarang ini lebih sedikit yang menderita asbestosis, tetapi mesotelioma masih terjadi pada orang yang pernah terpapar 40 tahun lalu. Untuk mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru, kepada para pekerja yang berhubungan dengan asbes, dianjurkan untuk berhenti merokok. Sementara itu guna menghindari sumber penyakit yang akan tersebar pada pihak keluarga, disarankan setiap pekerja untuk mencuci pakaian kerjanya di pabrik, dan menggantinya dengan pakaian bersih untuk kembali ke rumah. Sehingga semua pakaian kerja tidak ada yang dibawa pulang, dan pekerja membersihkan diri atau mandi sebelum kembali kerumah masing-masing.

Adapun material subtitusi yang dapat dipergunakan untuk mengganti asbes adalah Kalsiboard (Serat selulosa, silika, additif, semen dan air), Ardex (Serat sintetis, serat selulosa, zat additif, semen dan air) dan Seng Eternit (Serat sintetis, serat selulosa, zat additif, semen dan air)

Pustaka :

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1405/MENKES/SK/XI/2002.
  2. Badan Standarisasi Nasional. 2005. Nilai Ambang Batas (NAB) zat kimia di udara tempat kerjaSNI 19-0232-2005.
  3. Thamrin, M.T., Akhadi, M. 2004. Dampak Radiologis Pelepasan Serat Asbes. IPTEK ILMIAH POPULER. p:67-76.
  4. Anonim 1. http://id.articlesnatch.com/Article/Complete-Information-On-Asbestosis-With-Treatment-And-Prevention/318552 (diunduh 6 Oktober 2009)
  5. Anonim 2. http://www.asbestoseffects.com/AsbestosEffects-health.aspx (diunduh 6 Oktober 2009)

kecelakaan Challenger

Kecelakaan pesawat ulang-alik Amerika Serikat Challenger terjadi pada tanggal 28 Januari 1986. Pesawat ini hancur dalam detik ke-73 setelah peluncuran, dan menyebabkan kematian tujuh orang awak. Pesawat ini hancur di atas Samudera Atlantik, lepas pantai Florida. Kecelakaan ini menimbulkan kerugian dengan total 5.5 Milyar US Dollar, yaitu 2 milyar Dollar untuk penggantian pesawat dan sisanya untuk biaya penelitian, investigasi, dsb.

Misi Peluncuran Challanger

Pesawat ulang-alik Challanger kebanggaan negara Amerika serikat atau disebut juga Flight STS-51L, merupakan penerbangan ulang-alik NASA ke 25. Awak yang mengikuti penerbangannya berjumlah tujuh orang, yaitu Michael J. Smith (Pilot), Dick Scobee, Ronald Mc Nair, Ellison Onizuka, Christa McAuliffe, Gregory Jarvis dan Judith Resni . Adapun misi peluncurannya yaitu:

  1. Untuk pelacakan dan Relay Data (Satellit-B Spartan-Halley Satellit)
  2. Program monitoring Komet Halley
  3. Eksperimen fasa dinamika fluida
  4. Eksperimen Guru/ pengajar, yaitu Christa Mc Auliffe
  5. Program Monitoring Radiasi

awak pesawat Challanger

STS-51-L awak: (baris depan) Michael J. Smith , Dick Scobee , Ronald McNair; (baris belakang) Ellison Onizuka , Christa McAuliffe , Gregory Jarvis , Judith Resni

Pre-Launching Challanger

Challenger pada awalnya diatur untuk diluncurkan dari Kennedy Space Center Florida, Amerika Serikat pada 22 januari 1986. Namun, peluncuran akhirnya ditunda hingga 24 januari. Selanjutnya peluncuran dijadwal ulang untuk tanggal 25 januari akibat cuaca buruk di Senegal. NASA memutuskan untuk menggunakan Senegal sebagai situs peluncuran, tapi karena malam tidak dilengkapi sistem yang baik, akhirnya dipindahkan kembali ke Florida. Peluncuran akhirnya ditunda hingga 28 januari 1986, dikarenakan adanya kerusakan pada indicator mikroswitch, bahwa pintu belakang pesawat tidak terkunci dengan sempurna.

Perkiraan tanggal 28 Januari diperkirakan pagi yang sangat dingin, dengan suhu mendekati 31 ° F (-1 ° C). Temperatur rendah ini mendapat perhatian dari insinyur perusahaan kontraktor Morton Thiokol, yang bertanggung jawab dalam pembangunan dan pemeliharaan pesawat bagian SRB’s (Solid rocket boostesr). Di sebuah teleconference pada malam 27 januari, insyinyur dari Morton Thiokol dan manager membahas kondisi cuaca dengan manager NASA dari Kennedy Space Center. Beberapa insinyur terutama Roger Boisjoly, yang menyuarakan keprihatinannya tentang pengaruh suhu terhadap ketahanan karet O-rings yang menutup sendi Solid Rocket Boosters (SRB’s).

Adapun SRB’s dibangun dari enam bagian yang tergabung dari tiga bidang sendi. Bagian-bagian sendi tersebut menggunakan segel dua karet cincin-O, yaitu pimer dan sekunder (cadangan) (sejak kecelakaan Challenger terjadi, sendi SRB sekarang selalu menggunakan tiga O-rings).Penyegelan tersebut berguna untuk menahan panas bertekanan tinggi dari gas-gas yang dihasilkan oleh propelen padat yang terbakar di dalamnya. Insyinur dari Thiokol berpendapat bahwa jika cincin O lebih dingin dari 53 ° F (12 ° C), mereka tidak memiliki cukup data untuk menentukan apakah segel akan aman. Ini adalah suatu pertimbangan yang penting, karena O-Rings SRB’s telah ditetapkan sebagai komponen kritis 1, yang berarti bahwa tiada cadangan jika primer dan sekunder cincin gagal, dan diramalkan kegagalan tersebut akan menghancurkan orbiter dan awak. Para insinyur di Thiokol juga berpendapat bahwa rendahnya suhu pasti menghasilkan temperatur SRB di bawah redline. Namun, pendapat para insinyur ditolak oleh manajemen Thiokol Morton yang merekomendasikan bahwa penerbangan harus dilanjutkan seperti yang dijadwalkan.

Karena temperatur rendah saat peluncuran pesawat, sejumlah besar bongkahan es berada di tempat-tempat di samping pesawat. Kamera inframerah menunjukkan bahwa di bagian buritan SRB’s, suhu

menjadi hanya 8 ° F (-13 ° C). Hal ini diyakini sebagai hasil dari udara super dingin, yaitu gabungan dari tangki oksigen cair. Akhirnya sepanjang malam tim bekerja membersihkan bongkahan es. Insinyur di Thiokol Morton masih mengungkapkan keprihatinan. Mereka khawatir bahwa selama peluncuran, es mungkin akan terguncang lepas dan menyerang perlindungan termal pesawat ubin, disebabkan asanya aspirasi yang disebabkan oleh jet dan gas buang dari SRB.

Bagian-Bagian Pesawat Challenger

bagian-bagian spaceshuttle challanger

Pesawat Challanger terdiri atas 3 komponen utama, yaitu :

  • Orbiter yang bernetuk pesawat. Para awak pesawat menempati orbiter. Jika sudah tiba di orbit bumi, orbiter tidak membutuhkan bahan bakar dari tangki eksternal
  • External Tank (ET) atau Tangki eksternal.Tempat bahan bakar cair disimpan.
  • 2 buah Solid Rocket Boosters (SRB’s) bagian kiri dan kanan, yang merupakan tempat bahan bakar padat. SRB ini berfungsi pula sebagai pendorong awal saat pesawat Challanger meluncur dari tempat peluncuran. Daya dorong yang dihasilkan oleh kedua SRB ini sekitar 80% dari total daya dorong yang dibutuhkan pesawat untuk mencapai luar angkasa. 20% lainnya disediakan oleh main engine pada orbiter yang bahan bakarnya dari ET.

Detik-Detik Terjadinya Kecelakaan

  • 6,6 detik sebelum peluncuran, seperti biasa mesin utama pesawat antariksa (space shuttle main engines) dinyalakan.
  • Pada saat peluncuran, SSME bekerja kondisi 100%, dan mulai dipacu mencapai 104% melalui kontrol komputer.
  • Pada 0,678 detik setelah peluncuran, terlihat gumpalan asap hitam dari sambungan SRB kanan (Asap tersebut dapat diartikan bahwa sambungan tidak tersambung sempurna, dan gas buangan pada booster menerobos karet O-ring)
  • Pada saat 56 detik setelah peluncuran (max gravity condition), challenger melewati pusaran angin terburuk sepanjang sejarah pesawat antariksa. Angin yang mengenai pesawat menyebabkan booster menjadi lentur dan melepaskan alumunium oxide yang membungkus O-ring. Hal ini ditandai dengan berkurangnya tekanan di ruangan dan munculnya percikan api di sambungan tsb.
  • Karena api mengarah ke ET, tangki hidrogen cair mulai bocor sehingga mengalami penurunan tekanan pada detik 66,764 detik setelah peluncuran.
  • Kebocoran itu mengakibatkan hidrogen cair menguap sehingga menyebabkan api semakin besar.
  • Pada 70 detik setelah peluncuran, sambungan antara SRB dan ET menjadi sangat panas dan lemah. Karena jumlah tekanan yang diberikan oleh SRB mengakibatkan  sambungan tersebut terlepas sehingga memisahkan SRB dan ET. Dan pada saat itu juga hubungan terakhir yang dapat ditangkap dari kabin Challenger.
  • Berkurangnya banyak massa pada tangki hidrogen akibat kebocoran menimbulkan dorongan akselerasi yang tiba-tiba sehingga tangki hidrogen membentur tangki oksigen yang berada di bagian atas external tank.
  • Tak lama kemudian, campuran antara hidrogen dan oksigen cair yang keluar dari tangki mulai terbakar dan seluruh pesawat terselimuti oleh asap yang bergerak dengan kecepatan lebih dari 1250 mph ( 2040 km/h)
  • Tepatnya pada 73,162 detik setelah peluncuran, pesawat antariksa Challenger meledak berkeping-keping karena tekanan besar yang diterimanya.

ledakan challanger di udara

Penyebab dan waktu kematian

Pesawat luar angkasa dirancang untuk menahan percepatan tiga kali percepatan gravitasi di bumi (30 m2/s) dengan yang lain 1.5 m2/s. Pesawat dan konstruksi diperkuat dengan aluminium. Selama terjadinya kecelakaan, para awak kabin terpisah-pisah dan perlahan-lahan jatuh ke atas Samudera Atlantik. Paling tidak beberapa astronot itu mungkin masih hidup dan sebentar sadar setelah meledaknya pesawat, karena ditemukan sebagian dari  Pribadi egress Air Packs (PEAPs), yaitu sistem penyelamatan darurat pada dek penerbangan, ditemukan telah diaktifkan. Meskipun laporan itu, beberapa ahli, termasuk salah seorang penyelidik mengarah NASA Robert Overmyer, percaya sebagian besar, jika tidak semua awak masih hidup dan mungkin sadar sampai meluncur ke lautan.

Pemerintah Amerika Serikat membentuk komisi khusus (Rogers Commission, ketua : William P. Rogers ; wakil : Neil A. Armstrong ) untuk menginvestigasi kecelakaan dan menghasilkan beberapa fakta, yaitu :

  • · Penyebab kecelakaan adalah kegagalan dari pressure seal pada sambungan aft field dan O-Ring pada Solid Rocket Booster (SRB) bagian kanan karena :

1. efek temperatur

2. dimensi fisis

3. karakter material

4. proses & reaksi sambungan terhadap beban dinamis

  • · Keputusan untuk melepaslandaskan challenger adalah cacat , karena rekomendasi dari teknisi Martin Thiokols menyebutkan bahwa

“lepas landas tidak dapat dilakukan pada temperatur di bawah 530 F karena O-Ring akan  rusak”

  • · Teknisi pada Morton Thiokol (kontraktor) yang bertanggung jawab pada pembuatan solid rocket booster secara agresif menentang peluncuran challanger, namun pendapat mereka tidak dihiraukan bagian management . Rekomendasi teknisi tidak disampaikan ke pihak NASA oleh manajemen Martin Thiokols  Pada hari sebelum peluncuran, terjadi delay karena cuaca yang lebih dngin dari perkiraan dimana O-ring di ujikan, lebih dari 30 teknisi bekerja , namun tidak ada berita yang masuk ke level 1 dan 2 NASA.

Teori terjadinya kecelakaan

The cause of accident dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

–          System Failures

Contoh : kesalahan desain, kekeliruan pemilihan material, material kurang kuat, proses kimia salah, peralatan tidak sesuai

–          Procedural Failures

Contoh : prosedur tidak jelas, training tidak jelas

–          Employee Error

Contoh : Kesalahan karyawan, sengaja tidak melakukan, PPE tidak dipakai dengan benar, melakukan suatu pekerjaan yang tidak jelas

Merujuk pada hasil investigasi kecelakaan pesawat Challenger ini terjadi disebabkan oleh adanya Procedural Failure, atau kesalahan prosedur yakni tidak dipenuhinya dengan baik prosedur-prosedur dalam penerbangan pesawat antariksa, terutama peraturan dalam SRB (solid rocker booster). Pihak manajemen juga telah salah dengan mengindahkan pendapat dari para Insinyur pembuat SRB, yang menolak penerbangan Challenger. Kesalahan lainnya disebabkan oleh system failures, atau kesalahan pada sistem, yakni tidak digunakannya 3 sambungan O-rings pada SRB dan material pembuat SRB yang kurang kuat.

Daftar pustaka : dari berbagai situs internet

Partikulat

Debu (partikulat) dalam udara dapat bersumber dari perisitiwa alami ataupun dari kegiatan manusia ataupun kegiatan  alamiah.  Partikulat didefinisikan sebagai material dalam bentuk solid ataupun liquid di udara dengan ukuran diameter partikel sekitar 0.005 µm hingga 100 µm, meskipun yang dalam bentuk suspense secara umum kurang dari 40 µm (CEPA,2001).

Partikulat memiliki pengaruh terhadap iklim dan visibility, serta kesehatan dan kulitas hidup. Sebagian besar partikulat akan mengganggu sistem respirasi, karena kemampuannya yang dapat masuk ke dalam saluran respirasi dengan cepat. Adapun Ukuran partikel partikulat adalah parameter yang penting dalam karakterisasi perilaku fisik partikulat di atmosfer. Beberapa ukuran partikel menurut CEPA (2001 dalam Zannaria, 2008) adalah :

  1. Ultrafine particle (Extremely small/nuclei mode), yaitu partikel yang berukuran kurang  dari 0.1 nm (≤ nm).  Ukurannya yang sangat kecil dan pergerakannya yang acak menyebabkan partikel-partikel ini bertabrakan satu dengan yang lain dan membentuk partikel baru yang lebih besar.
  2. Fine particle (Accumulation mode), yaitu partikel dengan ukuran 0.1-2.0 nm. Partikel ini dapat berada di atmosfer dalam beberapa hari bahkan beberapa minggu. Proses deposisi dan presipitasi adalah proses utama yang dapat membuat partikel ini meninggalkan atmosfer.
  3. Coarse particle (sedimentation atau coarse mode), yaitu partikel yang berukuran lebih besar dari 2 nm. Pada umumnya partikel dengan ukuran tersebut akan mudah tertarik oleh gravitasi bumi dan berada di atmosfer relative lebih cepat, yaitu sekita beberapa jam atau beberapa hari.

Partikulat dapat berasal dari proses-proses berikut, yaitu :

  • Reaksi pengolahan material
  • Reaksi pembakaran
  • Reaksi konversi gas-gas atmosfer

Partikulat di udara merupakan suatu sistem yang unik dengan karakteristik yang bervariasi, dimana tergantung pada :

  • Karakteristik Partikel à mencakup  ukuran, distribusi partikel, bentuk, densitas, adesi dan kohesi partikel, korosivitas, rekativitas dan toksisitas.
  • Karakteristik gas pembawa à mencakup tekanan, temperatur, viskositas, kelembaban, komposisi kimiawi dan keterbakaran.
  • Karakteristik sumber/proses à mengemisikan partikel, mencakup laju alir gas, konsentrasi partikel pada aliran gas dan peralatan pengendali pencemaran udara

(Cooper, 1994).

Ukuran partikel umumnya dinyatakan dalam dp (diameter partikel). Untuk partikel nonsferikal, ukuran partikel dinyatakan dalam besaran yang disetarakan dengan diameter partikel bulat. Besaran-besaran tersebut antara lain sebagai berikut :

  • Diameter luas proyeksi, yaitu diameter lingkaran yang memiliki luas sama dengan luas proyeksi partikel yang dimaksud.
  • Diameter ekivalen aerodinamik, yaitu diameter partikel bulat dengan satu satuan densitas (1g/cm3) yang memiliki kecepatan endap yang sama dengan partikel yang dimaksud.
  • Diameter stokes, yaitu diameter partikel bulat yang memiliki densitas dan kecepatan endap yang sama dengan partikel yang dimaksud.

Besaran yang umum digunakan adalah diameter ekivalen dengan satuan µm/ mikron.Karakteristik partikulat dapat digambarkan dengan distribusi ukuran partikel, baik berdasarkan jumlah maupun berdasarkan berat. Berdasarkan sebaran partikel, partikulat dapat dibedakan menjadi sistem monodispersed (partikel memiliki 1 ukuran yang seragam) dan polydispersed (ukuran partikel yang tidak seragam walaupun beda satu fasa/jenis) (Hinds,1999).

macam-macam penyakit akibat debu/partikulat

Ukuran yang dapat masuk ke dalam sistem respirasi adalah partikulat berukuran kurang dari 10 µm dengan spesifikasi (Soemirat, 2003) :

  1. Ukuran 5-10 µm akan mudah tersaring oleh rambut-rambut halus di dalam rongga hidung
  2. Ukuran 2-5 µm akan terendapkan di alveoli
  3. Ukuran < 2 µm akan mengikuti gerak Brown, sehingga mudah masuk ke salam saluran respirasi dan mudah keluar kembali bersama udara ekspirasi

Partikel debu yang melayang dan terbawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi pandangan mata. Adanya serpihan logam beracun yang terdapat dalam partikel di udara merupakan bahaya terbesar bagi kesehatan. Umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0.01% sampai 3% dari seluruh partikel di udara, namun logam tersebut bersifat akumulatif dan kemungkinan akan terjadi rekasi sinergetik pada jaringan tubuh. Logam yang terkandung di udara dan masuk ke dalam tubuh lewat udara inspirasi mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkan dengan dosis yang sama jika berasal dari makanan atau air minum (Depkes, 1994).            

Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam paru-paru. Pneumoconiosis terdiri atas beberapa jenis, tergantung dari jenis partikel yang masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Beberapa contohnya adalah :

  1. Silicosis

Penyakit ini disebabkan oleh debu silika bebas, berupa SiO2 yang terhisap masuk ke dalam paru-paru kemudian mengendap.  Debu silika bebas ini banyak terdapat pada pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda,dll).

Silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk tidak berdahak.  Silicosis merupakan penyakit yang terparah diantara semua pneumoconiosis, karena bersigat progresif, yaitu jika pajanan dihentikan maka pneumoconiosis tetap akan berlanjut (Yunus, 1997).

2. Asbestosis

Adalah penyakit kerja yang diakibatkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai macam silikat, namun yang paling utama adalah Magnesium silikat. Asbes dapat menyebabkan tumor pada pleura yang disebut mesotelioma.  Mesotelioma bersifat ganas, tidak dapat disembuhkan dan biasanya terjadi setelah pemaparan selama 30-40 tahun. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik dan industri yang menggunakan asbes, pabrik beratap asbes, dsb.

3. Bissynosis

Adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh debu kapas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Banyak dijumpai pada pabrik pemitalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas.

4. Anthracosis

Adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu karbon (anthracit). Anthracit bersifat inert dengan kata lain hampir tidak bereaksi dengan paru-paru (Antaruddin, 2003 dalam Wibawa, 2008). Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batu bara atau pada pekerja yang banyak melbatkan penggunaan batu-bara.

Wiedy Yang Essa, 2010

Review Kuliah : PENGENDALIAN LIMBAH INDUSTRI

oleh Wiedy Yang Essa- 25309044

Magister Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung


—Permasalahan apa yang timbul apabila tidak dilakukan pengelolaan lingkungan terhadap PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)?—

PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) sebagai penyuplai energi listrik untuk masyakat dan Negara saat ini mulai dikembangkan oleh pemerintah Indonesia, mengingat kebutuhan akan listrik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. PLTU merupakan unit pemasok energi yang bahan bakarnya berasal dari batu bara. Indonesia adalah salah satu negeri yang memiliki sumber daya batu bara yang melimpah, oleh karena itu sistem ini feasible untuk dilakukan. Selain itu biaya operasional penggunaan batu bara paling murah dibandingkan dengan sistem pembangkit listrik lainnya.

Batu bara merupakan bahan tambang yang berasal dari fosil makhluk hidup jutaan tahun yang lalu, yang berarti bahwa batu bara ini bersifat organik. Terdapat dua jenis batu bara, yaitu yang berkualitas baik, dimana akan sedikit sekali menghasilkan unsur berbahaya sehingga tidak mencemari lingkungan. Kemudian batu bara yang berkualitas rendah, maka akan menghasilkan berbagai macam unsur berbahaya yang dapat mencemari lingkungan, seperti gas Sulfur, Nitrogen dan Sodium. Inilah permasalahan yang banyak terjadi di Indonesia akibat dari pemanfaatan batu bara. Dan pula jika pembakaran pada batu bara tersebut tidak sempurna, akan menghasilkan gas beracun CO (karbon monoksida).

Batu bara digunakan dalam PLTU dengan cara dibakar dalam suatu ruang pembakaran boiler. Dari proses pembakaran ini akan dihasilkan pencemar udara dan padat, yaitu gas SOx (sulphur oksida), NOx (nitrogen oksida), CO2 (karbon dioksida), dan CO (karbon monoksida), serta limbah padat berupa debu (bottom ash) dan partikulat logam berat seperrti SiO2 (silikat).

Permasalahan yang terjadi apabila PLTU tidak dikelola dengan baik:

1. Hujan Asam

Hujan asam terutama terjadi diakibatkan karena tingginya gas sulphur oksida dan nitrogen oksida (Peavy,et al,1985).Gas SOx dan NOx akan bereaksi  dengan uap air yang terdapat dalam atmosfer dan mengalami oksidasi. Oksidasi gas SOx akan menghasilkan H2S, HSO3– dan H2SO4 yang bersifat asam kuat, sedangkan oksidasi gas NOx akan menghasilkn asam nitrat (HNO3) sehingga menurunkan nilai pH air hujan sampai mencapai nilai 2 dan 3 (Sawyer, 1978) (lihat Gambar.1). Pengaruh hujan asam adalah asidifikasi (pengasaman) yang mengakibatkan : Terganggunya kesetimbangan ion pada banyak organisme akuatik, sehingga akan menyebabkan kematian organisme akuatik; Meningkatkan kadar logam, karena pengasaman akan melarutkan banyak logam di perairan, misalnya merkuri dan aluminium; Menjadikan terganggunya siklus nutrient ; Mengganggu proses dekomposisi, karena akan mengubah komposisi mikroba ; mengakibatkan penurunan alga yang hidup di perairan; merusak bangunan karena mengakibatkan pengkaratan, dan lain-lain.

2. Green House Effect

CO2 yang dihasilkan dari PLTU dapat menyebabkan efek rumah kaca, karena kumpulan gas tersebut akan menyelubungi permukaan bumi. Oleh karena itu, cahaya matahari yang masuk ke bumi tidak dapat lagi dipantulkan ke angkasa, sebab terperangkap di dalam bumi. Bumi diibaratkan seperti rumah kaca (Green House), seolah-olah diselubungi kaca yang berupa gas pencemar yang memerangkap panas. Akibatnya, suhu bumi semakin meningkat secara global (Effendi, 2003).

3. Penyakit pada Manusia

PLTU menghasilkan berbagai limbah partikulat dan debu,seperti fly ash, debu silikat, oksida besi, dan lain sebagainya. Limbah tersebut dapat menyebabkan gangguan dan penyakit pernapasan pada manusia, contohnya adalah Pneumoconiosis, atau penyakit pengerasan paru-paru, sehingga tidak dapat mengembang dan mengempis secara normal. Selain itu, limbah radioaktif dari PLTU juga dapat mengganggu organ tubuh manusia, karena umumnya bersifat karsinogen.

4. Kerusakan Biota

Logam-logam berat seperti Pb, Hg, Ar, Ni, Se juga dihasilkan oleh PLTU. Logam berat ini apabila terakumulasi di perairan dapat menyebabkan kematian organisma, terutama bila logam tersebut tersuspensi dalam air limbah yang dibuang oleh PLTU dan kemudian menuju laut, maka akan mencemari biota di laut lebih luas lagi.

—Apa teknologi spesifik yang digunakan untuk pengelolaan PLTU berbahan bakar batu bara dan apa yang telah diterapkan di Indonesia?—

Dalam melakukan pengelolaan lingkungan di PLTU berbahan bakar batu bara, harus lah bersifat komprehensif, dengan melakukan pengendalian pada seluruh aspek , yaitu ditinjau dari karakteristik limbah yang dikeluarkan, antara lain:

1. Pengelolaan Limbah Padat dan Gas

a. Best Practice Sistim pembakaran batu bara bersih Pembakaran Lapisan Mengambang /Fluidized Bed Combustion (FBC) di PLTU Tarahan Indonesia

Prinsip kerja PLTU adalah batu bara yang akan digunakan/dipakai dibakar di dalam boiler secara bertingkat. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh laju pembakaran yang rendah dan tanpa mengurangi suhu yang diperlukan sehingga diperoleh pembentukan NOx yang rendah. Bila suhu pembakaran pada Bioler biasa adalah sekitar 1400 – 1500℃, maka dengan menggunakan FBC, suhu pembakaran berkisar antara 850 – 900℃ saja sehingga kadar thermal NOx yang timbul dapat ditekan. Proses pembakaran suhunya lebih rendah sehingga NOx yang dihasilkan kadarnya menjadi rendah, dengan demikian sistim pembakaran ini bisa mengurangi polutan. Bila ke dalam tungku boiler dimasukkan kapur (Ca) dan dari dasar tungku yang bersuhu 750 – 950oC dimasukkan udara, akibatnya terbentuk lapisan mengambang yang membakar. Pada lapisan itu terjadi reaksi kimia yang menyebabkan sulfur terikat dengan kapur sehingga dihasilkan CaSO4 yang berupa debu sehingga mudah jatuh bersama abu sisa pembakaran. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pengurangan emisi sampai 98% dan abu CaSO4-nya bisa dimanfaatkan. Keuntungan sistim pembakaran ini adalah bisa menggunakan batu bara bermutu rendah dengan kadar belerang yang tinggi, dan banyak ditemukan di Indonesia (Anonim5, 2009).

b. Electrostatic Precipitator

Electrostatic Precipitator (ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi tinggi (mencapai diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan menggunakan electrostatic precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16 % (efektifitas penangkapan debu mencapai 99,84%). Alat ini sudah digunakan di PLTU di Indonesia. Cara kerja dari electrostatic precipitator (ESP) adalah (1) melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negative. (2) Partikel debu yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate).Kemudian debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping).

Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper)

FGD (Flue Gas Desulfurization)

FGD (Flue Gas Desulfurization) adalah alat yang berguna untuk menghilangkan/mereduksi Sulfur Dioksida (SO2) dari flue gas (gas buang) hasil pembakaran batubara PLTU.

Hasil samping proses FGD disebut gipsum sintetis karena memiliki senyawa kimia yang sama dengan gipsum alam. Gipsum tersebut dapat digunakan untuk bahan bangunan. Reaksi pembentukan asam pada FGD adalah sebagai berikut:

SO2 (gas) + H2O + ½O2 (gas)→ SO42- (solid) + 2H+

HCO3 + H+ → H2O + CO2 (gas)

d. Reuse and Recycle Material

Contoh limbah padat yang dihasilkan dari PLTU batu bara adalah fly bottom ash yang masih mengandung fixed carbon, sehingga apabila tidak dikelola dengan baik akan menghasilkan gas metana. Partikulat ini dapat di recycle untuk industri semen sebagai pengganti batuan trass yang bersifat pozzolanic untuk pembuatan semen tahan asam (PPC)

2. Pengelolaan Limbah Cair

Best Practices à Waste Water Treatment Plant (WWTP) di PLTU Tanjung Jati Indonesia.

Limbah cair keluaran dari PLTU TJB berasal dari beberapa tempat antara lain air sisa boiler (Boiler Blowdown), air sublimasi dari FGD (FGD Blowdown), air limpasan hujan di kolam abu (Ash Run Off) dan air limpasan hujan di penampungan batu bara (Coal Run Off). Air tersebut dialirkan untuk diolah dalam WWTP yang sebelumnya disimpan sementara dalam kolam retensi. Di sini air yang masih mengandung material berbahaya diolah dalam beberapa proses antara lain, netralisasi dan sedimentasi.

Tahapan proses yang terjadi adalah

Netralisasi yaitu proses penyesuaian pH air limbah. pH air limbah harus disesuaikan dengan kondisi ideal ekosistem biota laut yakni antara 6-9. Air limbah dengan kadar pH yang masih berbahaya dicampurkan dengan senyawa lain agar menjadi lebih ramah lingkungan.

Flokulasi yaitu proses penggumpalan bahan-bahan terlarut sehingga mudah untuk diendapkan.Setelah mengendap, endapan tersebut dipadatkan. Padatan itu kemudian ditempatkan di Kolam Abu. Kolam Abu ini dilapisi oleh plastik dengan tingkat kekedapan air yang amat tinggi sehingga menutup kemungkinan limbah berbahaya di atasnya dapat terserap ke dalam tanah. Semua proses tersebut mengubah material berbahaya menjadi material yang bersahabat dengan lingkungan.

SEMOGA BERMANFAAT… 🙂