Kids milestone (September 2018)

Ayuk kita nulis lagi! Walaupun cuman sebatas curhat dan dokumentasi like blogdiary J

Sekarang saya mau coba ngurai milestone nya anak-anak saat ini. Yang akan diulas adalah : a. fisik b. karakter umum c. kegiatan di sekolah d. kegiatan di rumah e. eating habit f. family bonding

Kita mulai dari…

  1. Abdul (7 years 11 months)

Wow, gak kerasa udah segede ini, kaka abdul yang dulu pas imut punya nick-name cinduy (skrg marah kalau dipanggil ini, hihi), udah kelas 2 esde, tinggi kurleb 120 cm-an dan berat 26-27 kg (alhamdulillah rentang normal untuk seusianya). Secara karakter alhamdulillah sekalii sudah semakin membaik, kalau dulu tiap hari tantrum dengan ngamuk sampai kedengeran se-RT, sekarang sudah gak pernah (time will heal, really!). Namun, si karakter jero yang emang masih ada yaitu : KERAS KEPALA! (kayak siapa yah?). Susah banget kalau dikasih tau, dan cuek nya selangit. Selain itu, anak pertama saya ini juga punya gengsi yang tinggi, kalau suruh minta maaf masih kaku dan ogah-ogahan. Trus jail dan tengil, suka koleksi tebak-tebakan dan gatel buat becanda2. adooh kenapa nurun yah? Kalau kata neneknya, abdul ini cowok banget.

Senengnya, kaka abdul selalu semangat kalau ke sekolah, gak pernah ngeluh dengan sekolahnya yang full day, walau sampe rumah hampir magrib kemudian teler. Dalam belajar, abdul juga orang yang punya antusias tinggi, dan menurut saya, cepet nelen dan ngerti. Termasuk, dia udah bisa observasi temen-temennya di sekolah.. “Mah, yang pintar di kelas itu si x. Kalau hapalan yang bagus si Y, kalau di Z itu gak terlalu pinter, masih pinteran kaka sih”. Hihihii.

Sejak dari TK, abdul itu orang yang sociable, seneng main dan bergaul dengan teman-temannya. Dan sepertinya dia semangat sekolah karena bisa main dan bersosialisasi, hehe. Keliatan dia sayang ama temen2nya, karena kalau abis travelling suka pengen beli temen2 sekelasnya oleh-oleh.

Abdul ini tiap hari pasti bawa buku ke sekolah, sampai tas nya beraattt banget.. kata bu guru nya pas istirahat abdul suka bacain buku buat temen-temennya dan juga suka pinjem buku di perpus, hehe. Abdul lagi suka main Ro-blox dan main futsal (ikut eksul juga).

Kalau di rumah, abdul ini gak keliatan seperti kakak paling gede, karena masih suka egois sampe berantem mainan sama adik-adiknya, dan cuek banget…belum terendus gelagat mau ngasuh, hahaha. Terus, dia ini parnoaan sama hantu dan gelap! Gara-gara dulu sering banget nonton on the spot versi misteri2 gt, skrg dia kalau mau ke tempat gelap harus ditemenin, fyuuh. Dan urusan makanan, picky eater banget!! Sayuran yang mau cuman lotek, dan buah-buahan yang disukai cuman alpukat,pisang sama mangga, heuu.. PR GEDE nih buat sayah.

Nah, abdul ini udah kliatan sayang sama mamahnya walopun gak terlalu suka diajak cuddling (udah malu kali ya), tapi seneng kalau diajak smule dan joged2 bareng.

 

  1. Zuran ( 6 tahun 3 bulan)

Anak kedua saya ini moody abiisss… aduh lagi-lagi nurun! Kalau mood nya lagi jelek (ciri-cirinya pagi-pagi udah rewel)- musti banget dibaek-baekin, kalau “kena” dikit ajaa, maka jangan kaget kalau dia bakal murka! Huhuhu. Murka ini dalam artian caper bangettt, ya manja, pengen dilayanin, pengen diturutin, pengen ditemenin. Pernah saya berpikir, ama karena tipikal anak tengah, atau “bungsu gak jadi”, sehingga haus akan kasih sayang ? He.

Tapi kalau mood nya lagi bagus, alhamdulillah, soleh bangeett. Gak pernah minta macem-macem kalau ikut mamahnya belanja, gak pernah merengek kalau diminta jalan agak jauh, suka nemenin adiknya main sampai nasehatin : “mamah, kalau di kamar mandi gak boleh nyanyi ya!”, “neneng, kalau minum pelan-pelan ya nanti tumpah”, hihihi, semacam itu lah yaa.

Zuran ini juga termasuk tipikal laki-laki yang “gak mau kalah”, terutama kalau dibandingkan sama kakaknya, duuh.. SIBLING RIVALRY banget! Sepertinya memang ini mah fitrah kalau jarak antar anaknya deket yah! Namun ternyataa… tabiat di sekolahnya dia (kata guru-gurunya) sangat dewasa! Seperti : ngajarin temennya makan yang baik, buang sampah, kalau jatuh gak nangis, Mashaa Allah, kok di rumah gak gitu ya? Heuuu!!

Soal makanan, zuran ini omnivora banget, hampir semua makanan dia suka. Tapi teteep makanan kesukaannya baksooo (sama kayak mamah!), cuman badannya masih tergolong mungil untuk anak sesuainya- pertambahan tinggi dan berat badannya termasuk lambat… dan setelah di observasi Qadarullah zuran ini kena TB, jadi harus perawatan minum obat selama 6 bulan. Tapiii.. TB di anak gak menular yah. Jadi, mudah-mudahan zuran cepet sembuh TB nya, biar badannya tambah gendut dan tambah tinggi, aaamiin.

Oya, untuk ativitas fisik, zuran ini memang lebih santun daripada abdul, outdoor activities sukaa tapi gak se-aktif kakanya. Alhamdulillah juga, zuran ini anak yang cerdas. Dari kecil gak pernah tekun ngajarin hitungan dan baca, tapi mendadak bisa sendiri! Kalau gak salah usia 3 tahun udah bisa papan nama di jalan, luar biasa.. mungkin ini salah satu benefit dari anak yang jaraknya pendek, sehingga zuran banyak belajar dari abdul.

Inshaa alloh tahun depan zuran udah masuk SD, pinginnya bareng di fullday school, mudah-mudahan bisa lulus dan utamanya BETAH yaa..aaamiinn.

Terakhir, zuran ini imuut, menggemaskan, dan suka banget cuddling serta manja-manja sama mamahnya. Zuran lah anak yang paling suka protes kalau saya kerja, dan sering merengek pengen ikut ke kantor (bahkan lebih sering dari adiknya!!). Setelah diingat-ingat, sifatnya yang moody dan sensitive ini mungkin dapat berakibat dari mood swing saya selama hamil.. jadi, ternyata bener..kalau hamil mesti-wajib-harus HAPPY terus yaa!! (buat advise ya, bukan buat diri sendiri, makasi).

 

  1. Adiba alias neng dodoy (3 tahun 3 bulan)

Anak mamah paling cantik ini namanya adibaa tapi panggilannya banyakk… bisa neng iyay, neng dodoy, neng embem, neng tumtum, hihihi. Sepertinya karena memang akan jadi anak terakhir (inshaa alloh), karakternya jadi sangaatt manjaa.. tapi lucu banget dan ngegemesiiinn. Bicaranya masih cadel dan susah dimengerti tapi cerewet bangett. Centilnya udah pengen pake makeup dan ngacak-ngacak punya mamahnya. Ah pokonya kesayangan mamah dan papah naming maah. Neneng sekarang suka minta jajan, paportinya ke alfamarat, beli yupi sama susu. Dan diantara anak-anak saya, neneng ini yang sering ditinggal-tinggal, karena pas saya udah jadi PNS, jadi kerasaa paling kurang kasih sayang yaa… Insha alloh, alloh selalu melindungi neneng.. aamiinnn…:D

 

 

 

 

Trakhir… ini yang zuran tulisakan tentang mamahnya!LOL its true, wkwkwkw!

Mamah (31 tahun 9 bulan)

Mamah kerjaan ngemil tapi kata mamah sendirinya mau langsing.

–Sekian

 

Cuman nulis segini, tapi lamaa bangeettt beres nya.. mashaa alloh

Rezeki itu…

Rezeki itu.. salah satunya, memiliki teman cerdas yang mau berbagi, tanpa tidak pernah takut tersaingi.

Rezeki itu… memiliki teman yang dapat diajak ngobrol dari A sampai Z, punya resonansi yang sama meskipun kegemaran dan hobbynya berbeda.. yang rasanya jika tidak sehari bercerita harimu akan terasa hambar.

Rezeki itu… memiliki teman yang mau mendengar ceritamu meskipun hanya recehan, rela meluangkan waktunya untuk chatting tak tentu arah..

Rezeki itu… memiliki teman yang selalu menyempatkan membelikan buah tangan ketika ia berpergian meskipun itu hanya kepingan coklat kecil. Meskipun tak seberapa jauh jaraknya. Bukanlah nilai barangnya, tapi perhatiannya yang utama.

Rezeki itu… banyak. bukan hanya soal uang.

Tapi juga kamu. Terimakasih telah menjadi temanku yang baik dan menentramkan 🙂

Essa, september 2018

Teach Like Finland : Bagian 1

Sebagai seseorang yang memiliki passion di bidang pendidikan dan mengajar, atau karena garis keras keturunan para mengajar, saya tertarik sekali untuk membaca buku Teach Like Finland ini. Penasaran, bagaimana daleman sistem dan cara pendidikan di negara yang katanya juga mengedepankan “kebahagiaan warga”-nya itu.

Pasi sahlberg dalam introduction di bagian awal buku ini berhasil merangkum  rahasia keberhasilan Finlandia dalam pendidikan :

  1. Pendidikan yang merata : Kurikulum sekolah di finlandia memiliki porsi yang sama untuk semua mata pelajaran sehingga memberikan kesempatan bagi  semua anak untuk mengolah bakat dan kepribadian. Dan utamanya : semua sekolah harus menjadi sekolah baik, dengan mayoritas siswa berada dalam kelas yang heteregon dari status sosial dan ekonomi. Saat ini, di Indonesia sudah menerapkan kebijakan sistem zonasi sekolah dengan impact jangka panjang pembentukan sekolah yang berkualitas dan merata di setiap daerah. Namun, dalam implementasinya masih banyak kendala, sehingga  kebijakan ini dirasa tidak populis, terlihat dari banyaknya keluhan yang disampaikan masyarakat mulai dari demonstrasi di jalan hingga ke surat kabar dan sosial media. ini yang perlu di evaluasi, karena pasti, tujuannya sudah baik. Tidak perlu ada stereotype sekolah unggulan, karena sejatinya sekolah berkualitas itu yang dapat menggodok para pelajar menjadi baik, bukannya sekolah unggulan yang inputnya saja sudah murid-murid yang pintar. 
  2. Pengajar yang berkualitas : para guru harus lulus dari program magister berbasis penelitian, diharuskan mempelajari psikologi anak, pedagogi, pendidikan khusus, dan kurikulum yang lebih banyak dibanding lulusan lain di perguruan tinggi. Para guru pun harus merancang kurikulum sekolah mereka dan memilih cara yang paling efektif untuk mengajar. Penguatan profesi guru dan mendorong peningkatan status serta ketertarikan bagi anak2 muda untuk mau menjadi guru. Bagaimana dengan di Indonesia? sepertinya kesejahteraan para guru hanya bertumpu pada sertifikasi ya. dan kondisi yang saya alami, banyak para guru yang lebih mementingkan materi lewat bimbingan belajar, sehingga ada kesan : tahu seperlunya aja, paham nya di Bimbel. 
  3. Kesetaraan pendidikan yang kuat di Finlandia, dengan pembentukan Tim Kesejahteraan Siswa di setiap sekolah. Setiap anak harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
  4. Kepala sekolah yang memiliki kualitas untuk mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Hirarki kepemimpinan di sekolah yang merata, sebagian besar kepala sekolah juga mengajar para siswanya selain menjalankan tugas kepemimpinan. Ini menjadikan pengalaman di kelas dan tetap memiliki hubungan langsung dengan anak-anak murid. Saya setuju banget sama yang ini, tapi.. Di Indonesia gimana ya??
  5. Tetap aktif dengan kegiatan di luar sekolah dan minimal memiliki 1 hobi, mampu mendorong performa anak-anak finlandia di sekolah. Terdapat sekitar 100,000 asosiasi non pemerintah dengan sekitar 15 juta anggota di findalia yang menunjukkan bahwa orang Finlandia secara aktif ikut serta dalam berbagai macam kegiatan diluar sekolah. Kenyataannya, saya adalah orangtua yang sangat mendorong anak-anak saya untuk tetap aktif dan bergerak : saya daftarkan di ekskul untuk olah tubuh seperti futsal, taekondo atau bermain musik. dengan belajar hal-hal baru, dan ditekuni sebagai hobi, memberikan pengalaman yang akan mengisi laci-laci baru di otak dan mengembangkan kepribadian yang baik. 

Sekian sedikit cuplikan dari buku keren ini, lanjut di kemudian hari

Salam, Essa Agustus 2017

semoga bisa menulis satu minggu sekali disini!!

Review Sad Girls nya Lang Leav

ini adalah buku yang dari dulu pengen bgt saya baca, cuman ngeri liat harganya (versi English) yang mendekati 300rb-an (sayang nya karena belum bisa sharing buku harga segitu dengan anak-anak, kalau dictionary mah rela deh 500rb jugaa. hehee. masih itungan kalau beli buku, jangan bandingkan dengan harag tas, plis!).

akhirnya penantian berakhir, ketika menemukannya di rak toko buku diskon Togamas, dengan harga dibawah 80rb! dan asyiknya lagi sudah translated dalam bahasa, huehe! langsung beli dan saya lahap dalam waktu kurang dari seminggu (setengah buku saya habiskan di kantor ketika lagi sepi rapat, excusenya peneliti harus banyak baca untuk cari inspirasi, meskipun itu baca novel romantis! wakwaw!!).

Seperempat buku saya baca dengan cukup lambat, maklum curi-curi waktu di rumah tuh susah, kadang bacanya juga di meja makan sambil (mencoba) menghabiskan makanan sisa anak-anak yang mubazir. dan memang, bagian awal masih belum seru, masih meraba-raba alur dan jalannya cerita.

Ketika sudah menginjak Bab 15, cerita mulai mengalir dan membuat penasaran. dan selanjutnya, sampai membuat saya menitikkan air mata, huhu.  apalah ya, sampai baper.  Memang melankolis saya ini. Seperti ungkapan ” buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya”, ungkapan yang seseorang pernah katakan dan saya pikir : betul juga, ya. Tapi setidaknya saya lebih baik, lah. atau sedang berusaha untuk lebih baik dari pohon. Yang jelas, buah itu muncul karena ada pohon, si buah pasti memiliki sumbangan dari si pohon, tapi jelas, buah juga punya kendali atas kehidupannya sendiri, ya kan?

Jika anda suka novel romantis tapi sedikit dark, ya mungkin anda menikmati membaca ini. dan alurnya membuat anda penasaran sehingga harus membaca sampai habis, jika ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengan “Dusta” nya Audrey, yang dari awal buku sudah dimunculkan. Dan akhirnya memang : WOW, sedikit membuat tercengang dan nyampe ke inti cerita. Saya suka ceritanya yang gloomy, banyak kegelisahan, keinginan untuk kabur, hal-hal yang kadang suka saya alami kalau lagi kacau. Kecuali bagian bunuh diri nya, jangan sampai deh.

Oh ya, saya iseng bacain reviewnya sad girls ini di internet dan nyampe ke blog orang yang “hate” sama ceritanya karena gak suka hubungan yang berasal dari cheated. Yah, kalau udah takdir mau gimana lagi dong? gak semua kisah cinta muncul dari hal-hal yang mulus dan indah, kan? sama kayak kisah mulan Jameela dan Ahmad Dhani, hahay! meskipun banyak yang membenci, tapi kalau sudah kayak gitu akhirnya, gimana dong? yang benci juga akan capek sendiri kan, dan akhirnya toh yang paling ngerti bahagia engga nya ya pasangan yang bersangkutan. (oke, jangan bahas ini lagi).

Rad bilang begini pada Audrey di halaman 153 : “Hubungan memang kerap aneh. Sebagian besar orang tetap bersama lebih karena kebiasaan. Aku tidak kenal pasangan yang benar-benar bahagia”. silahkan dicerna masing-masing :-p

Part lain yang bikin terenyuh adalah halaman 122, lagi-lagi ucapannya si Rad. (Si Rad ini kalau difilmkan pasti ganteng deh! mirip-mirip Dilan gitu gak yah? hahah).

“Aku takjub melihat bagaimana orang-orang memanfaatkan penderitaan mereka untuk berkarya. Karya yang didasari melankolia memiliki keindahan tersendiri. Bahkan kata ‘melankolia’ itu sendiri indah saat diucapkan”

“Kukira kesedihan membumbui sastra dengan keunikan, seperti garam. Garam memiliki kekuatan untuk mengubah makanan. Kupikir kesedihan memiliki efek transformatif serupa dalam sastra”

Nah, ini lah sisi positif jika anda patah hati, sedih, galaw. anda bisa menulis dan membuat suatu karya yang hebat, betul kan? dan penderitaan itu lah yang kadang bisa menciptakan magic yang membumbui suatu karya menjadi lebih indah, dramatis, atau apalah. hehee.

Elsa Reed, hal. 210 “Aku belajar bahwa menulis adalah pelipur lara yang diberikan ketika kau tidak mendapatkan apa yang paling kau inginkan”

Bener banget, menulis adalah salah satu cara mengalirkan energi positif bagi saya. Dan kekuatannya juga bisa berbagi dengan yang lain.


akhir cerita, buku ini rekomended dan saya sangat menantikan jika dijadikan sebuah film! hehee, semoga saja ya.

Terimakasih Lang Leav, dan untuk puisi-puisinya yang menggetarkan hati.

Essa, Juli 2018

WhatsApp Image 2018-07-17 at 15.41.27

 

 

 

 

 

 

Cerita Iedul fitri 1439 H/ Juni 2018

Ini adalah lebaran ke-2 yang saya lalui tanpa Bapak, dimana tahun ini semakin kangen…. Sama bapak. Walaupun bapak sudah tidak ada, tapi kasih sayangnya tetap melimpah ke saya dan keluarga bahkan tahun ini masih banyak aja yg mengirim bingkisan dan sebagainya untuk Bapak. Alhamdulillah, di hari raya, sebelum berangkat ke tempat mertua, saya dan keluarga mengunjungi makam Bapak di padalarang yang telah ditembok walaupun belum diberi nama. Bapakku tersayang… semoga selalu bahagia disana, saya hanya bisa memberikan doa.

Judulnya kali ini libur lebaran skaligus libur panjang sekolah, saya ingin memberikan waktu berkualitas untuk anak-anak, misalnya mengajak mereka bermain ke tempat bermain di mall Jakarta, dan alhamdulillah kesampaian bisa mengunjungi puncak monas! Yang pertama dalam 31 tahun ini hahahaa.

Akhirnya dapet cara efektif mengunjungi puncak monas tanpa antri panas-panasan bau ketek: sudah ada di tempat pukul 7 pagi. Silahkan antri walaupun loket tiket baru dibuka pukul 8. Jam 8 tepat, setelah membeli tiket, langsung cuss ke atas, lancar dan gak pake macet.

Udah di puncak monas, eh kayak gini doang? Hihii (lalu mulai ngebandingin sama Tokyo sky tree, wkwkwk, tapi I lop indonesiah lah pokonyaa.. da ka Tokyo mah gak akan bisa tiket masuknya 10rebuu).

Bersyukur juga bisa berkunjung ke sanak saudara di Bogor, dan ke Kebun Raya Bogor (walopun cuman bentar). Pulangnya ke Bandung pun lewat lajur tak lazim, yaitu puncak! Alhamdulillah, bogor-bandung 7 jam sajah, hihihi. Ya iya, pake berhenti2 dulu, anak pup, poptoan, dsb, dan bersyukur bisa mengarungi jalan ini lagi setelah ribuan purnama.

Semoga masih bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan dan Iedul FItri Tahun depan dalam keadaan sehat, bahagia dan penuh rezeki. Aaamiin.

 

dari essa, yang udah lama banget gak ngeblog. lagi males pula cerita panjang-panjang, hihihi

WhatsApp Image 2018-06-23 at 14.10.45 (1)

WhatsApp Image 2018-06-23 at 14.10.45

 

 

 

Belajar dari kesalahan

Saya dahulu pernah membuat beberapa kesalahan, tapi yang saya dapat dari orang tua saya adalah : menyadarkan bahwa itu salah namun tanpa amarah. Tanpa memarahi, karena saya akhirnya sadar sendiri bahwa itu salah. Tanpa menimbulkan trauma. Begitu pula ketika saya tertimpa musibah menabrak nenek-nenek di jalan yang sedang menyebrang, besoknya ibu saya berkata : “Bawa mobil lagi. Jangan kapok”.

Dari sana saya belajar bahwa Ibu saya tidak mau saya trauma. Saya cukup tahu bahwa saya salah, dan segala hal hukuman seperti : anak ini harus diberi pelajaran, tidak pernah saya dapatkan. Entahlah alasannya apa, karena jika itu terjadi pada abdul zuran dan adiba mungkin saya juga akan memberikan hukuman ya hehehe (maklum anak BRUTAL banget saya di zamannya). Tapi memang, karena bentukan itulah, saya jadi seperti ini. Dan mungkin karena itulah, saya menyadari bahwa kesalahan itu bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Mengapa? Karena manusia selalu salah, namun dia akan belajar. Jika tak pernah salah, mungkin ia adalah batu. Karena batu gak bisa ngapa-ngapain, hihihi.

Saya kadang menganggap diri ini seperti keledai. Sudah salah, masih terulang lagi. Tapi akhirnya insting saya berkata untuk tidak membebani : “bisa aja takdir, kan?”. Ketika saya salah, saya juga tidak ragu untuk meminta maaf terlebih dahulu. Bisa saja bukan kesalahan kita, tapi tidak salahnya meminta maaf duluan kan? Menurut saya malah lebih mulia. Kadang saya merasa saya tidak takut salah, karena bentukan saya tidak takut pada hukuman, tapi alam pikir saya masih bisa menahan, mana yang harus diteruskan, mana yang tidak.

Dan apa yang saya pelajari dari kesalahan adalah sebenarnya bukan karena salah itu, percayalah se salah apapun dia pasti ada hikmahnya. Tidak usahlah membebani dan mencemooh diri sendiri (walaupun kadang saya lakukan), karena tidak ada gunanya. Tidak usahlah memarahi bertubi-tubi orang yang melakukan kesalahan, karena belum tentu dengan dimarahi dan dibentak, orang itu menjadi sadar kan? (kecuali yang korupsi, hihi). Jadi, jika lingkupnya adalah anak yang membuat kesalahan, lebih berarti kalau kita sebagai orang tua menjelaskan mengapa dia salah, dibanding menghukum dan membuat dia malah ingin melakukannya lagi dan lagi (alias penasaran). Jika memang pikirannya sudah matang, ketika dia berbuat salah, dia akan mengerti dengan betul. Tapi kalau dia masih anak-anak, dimana saraf masih belum bersinggungan dengan sempurna, bagaimana mungkin ia dapat mengerti apa yang kita teriakkan di muka mereka?

Mending lihat aja terus ke depan, dan buatlah kesempatan yang baru. Manusia juga bisa berubah, yakin deh. Oh ya,kalau kamu liat terus ke belakang, mungkin kamu lagi parkir.

Mudah-mudahan, setiap harinya, saya bisa menjadi semakin bijak. Aaaamiin.

 

Tulisan singkat yang tiba-tiba membuncah di kepala dan ingin dikeluarkan.

Setelah suatu momen terjadi… dimana saya tahu saya salah meskipun saya tidak benar-benar salah, tapi saya berani meminta maaf duluan. Oke, saya bukan pahlawan kalau gini doang. Kan masih belajar.