Perlukah indeks kemasyarakatan di Kota Bandung?

Globalisasi dan arus informasi teknologi yang tidak terbendung tentunya menghasilkan berbagai dampak negatif, diantaranya tergerusnya kearifan lokal dan maraknya persoalan kemasyarakatan seperti individualisme dan menurunnya jiwa gotong royong. Bandung yang merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia, yang hingar bingar oleh para pendatang pun tak dapat menampik banyaknya isu-isu sosial yang bermunculan. Permasalahan di perkotaan yang padat penduduk pada era modern sekarang ini adalah kurangnya rasa kepedulian sosial.

Pembangunan kebudayaan tertuang pada Misi ke-3 dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangan Menengah Daerah) Kota Bandung 2013-2018 yaitu membangun masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berdaya saing, dimaksudkan bahwa Pemerintah Kota Bandung bertanggung jawab dalam mewujudkan warganya yang sehat, cerdas dan berbudaya. Salah satu indikator misi tersebut adalah meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan keragaman budaya untuk mendukung terwujudnya karakter/jatidiri bangsa yang memiliki ketahanan budaya lewat indeks gotong royong dan indeks toleransi.  Persoalan kebudayaan merupakan salah satu penghambat proses pembangunan. Hal ini berkaitan dengan persoalan karakter dan mental manusia, sebagai aktor utama pelaksana pembangunan. Seringkali timbul permasalahan, dimana ketidakberhasilan program pembangunan di daerah disebabkan oleh kurangnya dukungan dari faktor budaya masyarakat tertentu.

Pada Tahun 2016 Pemerintah Kota Bandung meluncurkan inovasi berupa rapor warga/ indeks kemasyarakatan. Indeks Kemasyarakatan adalah data dan informasi tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan sosial kemasyarakatan yang diperoleh dari pengukuran secaran kuantitatif dan kualitatif atas pendapat masyarakat dalam kontribusinya terhadap pembangunan sosial kemasyarakatan dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhan. Tujuannya untuk mengetahui partisipasi masyarakat secara berkala sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka peningkatan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan Kajian awal Pengukuran Indeks Kemasyarakatan Kelurahan yang disusun oleh Bagian Pemerintahan Umum Setda Kota Bandung di Tahun 2016, Lingkup Indikator Indeks Kemasyarakatan, meliputi : Ketaatan Masyarakat Terhadap Administrasi Kependudukan, Hubungan dengan Lembaga Kemasyarakatan, Partisipasi Masyarakat dalam Kebersihan, Partisipasi Masayarakat dalam Keamanan Lingkungan, Ketaatan dalam Membayar Pajak, Pemahaman terhadap Perda K3, Partisipasi dalam Bergotong Royong, Partisipasi dalam Kegiatan Sosial, dan Partisipasi dalam Penghijauan. Namun, indikator pengukuran indeks kemasyarakatan tersebut perlu dilakukan penyempurnaan, karena belum adanya variabel dan parameter yang ditentukan berdasarkan hasil kajian yang komprehensif.

Rencana tindak lanjut dari pengukuran indeks kemasyarakatan adalah menjadi acuan atau pedoman dalam pembangunan di kewilayahan. Wilayah yang terdata banyaknya warga yang aktif dalam kegiatan masyarakat akan mendapat alokasi dana pembangunan yang besar dari Pemerintah Kota Bandung. Sementara kawasan yang indeks kemasyarakatannya rendah akan diberikan strategi khusus. Adapun parameter awal dalam rapor ini berdasarkan pada kajian sebelumnya yaitu taat administrasi kependudukan, keikutsertaan dalam kerja bakti, taat membayar PBB, bergaul dengan masyarakat sekitar, menjaga kebersihan lingkungan, partisipasi penghijauan, dsb. Untuk itu, perlu dikaji dampak pro kontra yang akan terjadi, sehingga dapat diantisipasi agar pengimplementasian kebijakan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, untuk memudahkan pengimplementasiannya perlu dibangun suatu sistem aplikasi yang memanfaatkan informasi teknologi dalam melakukan pengukuran indeks kemasyarakatan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kajian lanjutan dalam menentukan indikator pengukuran indeks kemasyarakatan serta membuat petunjuk teknis penukurannya

NHW #2 Menjadi Ibu Professional Kebanggan Keluarga

Apa itu professional? Menurut Cambridge dictionary : Professional means having the qualities of skilled and educated people such as as effectiveness  and seriousness  of manner.

Efektif, itulah kunci dari Professionalisme. Apalagi menjadi seorang perempuan yang dibebani fitrah:  segunung tanggung jawab, kesibukan tersebut harus menghasilkan produktivitas, bukan lelah semata.

Untuk Nice Home Work Institut Ibu Professional kali ini, saya akan membuat CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” sebagai diri sendiri, Ibu dan Istri.

Untuk membuat indikator, tentunya kita perlu merumuskan visi dan misi apa yang akan dicapai dalam kehidupan, bukan saja di dunia namun juga di akhirat. Merumuskan hal ini tidak dapat dilakukan hanya oleh satu orang, tapi sebagai sebuah keluarga, harus dielaborasi dari berbagai sudut pandang dan kebutuhan anggota, sehingga dapat dicapai bersama.

Visi : Keluarga Barokah (Barokah itu : “albarokatu tuziidukum thoah”, barokah memberi dan menambah taatmu pada Allah SWT)

Misi :

1.  Keluarga yang sehat

2. Keluarga yang berpendidikan

3. Keluarga yang bermanfaat

4. Keluarga yang bahagia

Selanjutnya indikator dalam mencapai misi tersebut:

Misi 1 : Keluarga yang sehat
Diri sendiri Indikator Target
1 Frekuensi Olahraga Jogging 2 kali minggu
2 Frekuensi Olahraga Renang 1 kali bulan
3 Frekuensi Tidur Malam Sebelum jam 22.00 4 kali minggu
4 Jumlah Air Putih yang diminum 2 liter hari
5 Jumlah penurunan Berat Badan 5 kg tahun
6 Frekuensi kunjungan ke dokter gigi 1 kali tahun
7 Frekuensi kunjungan ke dokter kulit 8 kali tahun
8 Frekuensi facial 5 kali tahun
9 Frekuensi kunjungan ke dokter mata 1 kali tahun
10 Frekuensi makan fastfood Max.1 kali minggu
11 Frekuensi makan mie rebus/goreng Max. 1 kali minggu
Istri
1 Frekuensi suami berolahraga 1 kali minggu
2 Jumlah Air putih yang diminum suami 2 liter hari
3 Jumlah kenaikan berat badan suami 1 kg tahun
4 Frekuensi makan fastfood Max.1 kali minggu
5 Frekuensi makan mie rebus/goreng Max. 1 kali minggu
Ibu
1 Frekuensi Cek Up ke dokter anak terkait tumbuh kembang dan vaksinasi 2 kali tahun
2 Frekuensi kunjungan ke dokter gigi 1 kali tahun
3 Frekuensi minum madu dan vitamin 5 kali minggu
4 Frekuensi berenang 1 kali bulan
5 Frekuensi makan fastfood Max.1 kali minggu
6 Frekuensi makan mie rebus/goreng Max. 1 kali minggu
7 Jumlah kenaikan berat badan anak 1 kg tahun
Keluarga yang berpendidikan
Diri Sendiri
1 Kegiatan les TOEFL/ IELTS 1 kali tahun
2 Jumlah buku yang dibaca 1 buku minggu
3 Jumlah artikel/ blog yang ditulis 2 buah minggu
4 Kegiatan diklat peneliti pertama 1 kali tahun
5 Kegiatan diklat dan pelatihan yang mendukung pekerjaan 2 kali tahun
6 Jumlah kegiatan dan Seminar Parenting 1 kali tahun
7 Khatam Al Quran 2 kali tahun
8 Zikir Pagi Petang 7 kali minggu
10 Membaca Al kahfi 1 kali minggu
11 Jumlah mengikuti kajian/majelis 1 kali bulan
Istri
1 Jumlah kegiatan dan Seminar Parenting yang diikuti suami 1 kali tahun
2 Jumlah kajian/majelis yang diikuti suami 1 kali bulan
Ibu
1 Jumlah buku yang dibacakan ke anak 1 kali minggu
2 Jumlah jam Menonton Tivi/ main gadget Max. 1 jam hari
3 Jumlah jam Bermain bersama anak (weekday sepulang kantor) 1 jam Hari. Tanpa disambi
4 Jumlah Kegiatan Wisata Edukasi (mengenal alam) 6 kali tahun
5 Kegiatan belajar Al-Quran 1 kali minggu
Keluarga yang bermanfaat
Diri sendiri
1 Zakat profesi 1 kali tahun
2 Jumlah uang yang disedekahkan 50,000 minggu
Keluarga yang bahagia
Diri sendiri
1 Frekuensi senyum dan menyambut ketika suami pulang kantor 4 kali minggu
2 Kegiatan bersama keluarga di luar rumah 3 kali bulan
3 Frekuensi cium anak-anak sebelum tidur 7 kali minggu
4 Frekuensi pacaran dengan suami 1 kali bulan
5 Frekuensi PDKT dengan masing-masing anak (jalan-jalan berdua, curhat) 1 kali bulan
6 Mendoakan dan membaca yasin untuk alm. Bapak 1 kali minggu

 

Sekian dan Terimakasih. Wassalamualaikum 🙂

a-goal-without-a-plan-is-just-a-wish-quote-1

Hikmah

Saya adalah orang yang tidak suka kegagalan. Hahaa ya siapa juga sih yang suka? Tapi bedanya adalah ketika saya gagal, saya suka berlarut-larut sedihnya. Lebay, yes. Ketika gagal, saya suka memarahi diri sendiri. Kenapa kamu bodoh, kenapa kamu teledor, kenapa kamu Geer, dan lainnya, yang pada akhirnya malah membuat hidup semakin menyedihkan.

Namun pada akhirnya , ya dalam waktu yang tidak sebentar juga, saya menyadari ada hikmah dari kegagalan tersebut. Inilah cerita-cerita saya :
1. Dulu zaman ABG bau terasi saya punya kecengan seabrek (kayaknya tiap kelas punya lelaki dambaan) tapi gak ada satu pun yang nyantol (kasian deh lu😂). Dulu saya menganalogikan hal ini sebagai kegagalan. Gagal punya pacar😅 yang saya analisis sebagai : kamu jelek, mana ada yang mau. Kamu gendut😑 tapi setelah saya langsing tetep aja tuh gak laku. Kamu pecicilan dan berisik (ah ini mah udah mendarah daging ya😂) , dsb. Saya pernah terpuruk, minder, merasa jadi wanita paling buruk rupa sedunia, sampai akhirnya saya bertemu dengan pasangan hidup saya . Alhamdulillah akhirnya saya menyadari hikmahnya : coba dulu kalau pacaran, mungkin bakal melakukan hal-hal yang gak baik (naudzubillah), coba dulu kalau jadi Ama si anu pasti hidupmu bakal suram (entah kenapa pernah punya kecengan mantan pemakai hahaha😂) , atau lain-lainnya. Intinya : Alhamdulillahh… Betul?
2. Pernah berandai-andai jadi Walikota Bandung (dulu… sekarang sih : impossible 😂), Ketika SMA ketika lewat Balaikota (kantor Walikota) selalu sesumbar : “nanti mau kerja disitu ah “ (alasan : gedungnya bagus, parkiran luas) . Sampai akhir masa kuliah S1 ikutan rame2 sama temen2 daftar pns (ditambah bapak dan ibu yang jg PNS selalu memotivasi). Tapi ternyataaa, sampai 5 tahun dan 5 kali saya ikut tes gak pernah ada yang lolos. Terakhir ikut adalah di Pemprov DKI dan kementrian perindustrian sudah sampai tahap paling akhir, tapi takdir tidak menyambut. Sempat down berbulan bulan, merasa diri paling bodoh, tolol, idiot. Menyalahkan takdir : kok Allah gak adil? Gak lihat ya sayahh sudah kerja keras? Dll. Yang sebelnya adalah ketika temen  yang :saya infokan pembukaan tes, saya yang kasih soal-soal latihan, tips2 dan sebagainya- dan eehh kenapa dia yang lolos? 😂😂 .

Dan akhirnya, dalam Keikutsertaan tes yang ke 6, yaitu tes di Pemkot Bandung, saya lulus. Senang sekali😍😍 Alhamdulillah : coba kalau saya lolos PNS di Pemprov DKI sama Ahok.. oh no, gak kebayang 😅😅. gak kebayang juga tiap hari jadi pepes kegencet di gerbong KRL ibu-ibu . Coba kalau saya lolos dosen di Kementerian Perindustrian  di Bogor, mungkin saya bakal jauh dari ibu bapak dan keluarga , jauh banget dari fitrah seorang wanita😫😫. Alhamdulillah..
3. Ini yang terjadi baru-baru ini. Sudah lama saya punya mimpi bisa kuliah di luar negeri. Kenapa? Keren dong. Intinya pengen punya pengalaman dan wawasan lebih, tapi pencapaian terakhir masih tahap omdo. Terus entah kenapa 2017 ini terpikirkan lagi, setelah nant diklat peneliti, mau serius cari beasiswa. Pengen S3, mumpung masih muda (beneran? 30 masih muda? Hahaa onderdil udah tua kayaknya) . Intinya lagi pengen, siapa tahu 2 tahun lagi mah udah males, otaknya karatan. Pengen nyenengin ibu, setelah bapak gak ada, tujuan bikin cita2 ibu terwujud lebih tinggi dari sebelumnya.

Ketika itu, ada pengumuman 300 doktor Pemprov Jabar. Waahh lumayan. Ketika cari tahu, ternyata hanya fasilitasi diklat dan pelatihan bahasa saja. Tapi lumayan banget. Udah niat sampai nulis di notes apa aja berkas yang harus di scan. Sampai di rmh selalu inget : oke, kita mau scan. Sampai akhirnya lenyap saja itu planning karena sibuk sana sini dan ternyata sudah tutup 😂😂, trus sedihnya (seneng juga sih) temen saya yang lolos. Waah padahal kalau saya ikut, saya bisa kursus gratis, ketemu teman-teman baru, bahkan tes gratis. Sempet kesel, gondok, nangis 😂, kepikiran terus sampai mau tidur pun kepikiran (keseel.. minta amnesia aja kayak Tao Ming Seuu).

Tapi akhirnya : yauda lah , mau les TOEFL  mah, les aja. Uangnya bakalan ada kok (tinggal nyisihin, kurangin jajan ke cafe wkwkw), atau belajar saja sendiri, tinggal niat atau engga kan?

Alhamdulillah nya : kalau saya lolos, kasian juga ke Litbang kerjaan sedang seabrek😂😂. Bersyukur, pasti dan akan selalu ada hikmahnya. Semoga mimpi s3 beasiswa ke Eropa ini bakal segera terwujud yaaa aaamiin.
Suami saya selalu bilang : mamah lebay banget. Ah gak tau, emang udah kayak gini kali? 😂 Atau emang kurang bersyukur sih. Padahal saya yakin, kalau punya Mimpi,niatin, lalu usaha. Gak usah inget hasil nya apa, biar Allah aja yang atur. Usaha itu lebih mulia.

Mau belajar biar lebih tangguh. Gak gampang nangis, gak gampang pundung, gak gampang marah2. Kalau bisa mau punya muka tembok , hati tembok. Muka tembok juga boleh lah, flawless gtu maksudnya. Hehehe
Sekian dulu

Alhamdulillah

 

Andilau

Malam ini saya lelah sekali. Entah, dengan jadwal hari ini di kantor yang padat merayap dan waktu istirahat yang tersedia hanya cukup untuk solat dan makan, yang sebenarnya harus nambah waktu relax dan me time (misal bobo siang, tiduran, main game, nonton korea, karoke. Mungkin nanti kalau saya udah jadi walikota diterapkannya 😂). Barangkali saya harus pindah ke kewilayahan yang “sedikit” santai barangkali? 😐

Ketika sampai waktunya untuk pulang, saya ingat sudah janji pada zuran, anak kedua saya untuk main ke pasar malam. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6, saya pun segera pesan gojek, dengan jalanan yang cukup macet, saya baru tiba di rumah jam 6. Setelah sampai di rumah, benar saja, zuran sudah merengek menagih. Ya janji adalah janji. Setelah sembahyang dan ganti baju, saya pun mengajak kakak Abdul dan zuran pergi ke pasar malam yang ada di komplek sebelah. Dan setelah setengah jam main kami kembali ke rumah.
Sampai rumah, huff.. makin terasa lelahnya. Badan berasa lunglai. Ketika ingin istirahat, anak-anak masih on fire. Mereka cari perhatian dengan mengacak-ngacak selai, main penggorengan yang belum dicuci, lempar-lempar donat, dsb. Di saat lelah seperti ini, dan harus menghadapi anak-anak yang masih aktif, amarah pun membludak. Saya marah ke Abdul, kenapa malah iseng, bukannya menjaga adik-adiknya. Saya marah ke zuran, kenapa gampang menangis kalau diganggu kakaknya. Sampai saya marahin neng Dodoy,anak paling kecil yang bicaranya pun belum jelas, karena ia ingin bermain dengan wadah berisi garam dan saya larang.

Setelah marah biasanya bukan tambah baik, saya malah menyalahkan diri sendiri. Aduh, Kenapa harus marah? Kenapa tidak bisa mengontrol emosi ? Padahal delapan jam anak-anak setiap harinya ditinggalkan, dan ketika saya pulang mereka hanya mendapat omelan?

Aahh.. rasanya ingin sekali merebahkan diri, ketika pikiran dan raga sudah di titik mumet, ingin kabur dan menjalani tidur yang berkualitas. Tapi kenyataan anak-anak yang makin menjadi-jadi tingkah laku aktifnya setelah saya marahi, saya belum bisa menyentuh kasur 😥.

Akhirnya jika sudah di titik begini, pikiran saya mengembara ke pertanyaan : kenapa sih saya harus bekerja? Coba kalau saya di rumah saja, kan saya tidak akan capek begini. Sebenarnya, saya bekerja buat apa ya? Untuk mencari uang? Untuk mencari kedudukan? Untuk mendapat pujian dan kehormatan? Namun mengorbankan keluarga?

Ketika sejenak saya curi-curi scrolling timeline di Facebook, saya bertemu status sahabat saya yang isinya seperti ini :

170526094512 (1)
Kata-kata terakhir :
“Jadi sepertinya ceramah-ceramah bagaimana menjadi suami yang baik dan benar harus diperbanyak nih, dibandingkan melarang istri untuk bekerja, dsb”

“Kesalahan” disana mungkin tidak murni dari suaminya, tapi perempuan kekinian yang sering banyak di luar rumah. Menurut saya, seharusnya perempuan yang sekolah tinggi tidak usah gila jika tidak bisa bekerja atau berkontribusi. Perempuan sekarang banyak menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu dan identitas, menghamba pada aktualisasi diri dan prestasi, ketika remaja jarang di rumah, sehingga setelah menikah dan mempunyai anak harus kembali ke rumah itu sesuatu yang dapat membuat pikiran kurang waras. Sehingga ketika suaminya ingin istrinya di rumah, istrinya malah ingin bekerja 😁. Ya itu juga sih yang terjadi pada saya. Sebenarnya bukan semata-mata untuk uang, tapi lebih ke ingin berkontribusi.

Kembali lagi, kepada niat untuk ibadah. Bekerja juga, jika niatnya untuk ibadah, Allah juga akan menghitungnya sebagai pahala.

Dan saya pikir, bekerja jam 8 sampai jam setengah 5 itu melelahkan (untuk PNS di Bandung yaa), karena wanita tetap punya kodrat untuk mengurusi rumah tangga , anak-anak dan suaminya. Seharusnya ada keringanan untuk kaum ibu, tapi apa kabar emansipasi yang katanya harus disetarakan profesionalisme nya?

Perenungan diakhiri dengan ANDILAU (Antara dilema dan galau) yang tiada akhir.
Ya, beginilah ibu-ibu.
Semoga selalu dikuatkan dan ditunjukkan jalan kebenaran. Aamiin .

Bandung, Mei 2017.

Sepucuk surat untuk suamiku

Sumiku, ketika aku menulis ini, usia pernikahan kita memasuki 7 tahun 5 bulan 16 hari. Waktu yang tidak sebentar, dengan 3 permata yang telah Allah titipkan pada kita, dan dengan ragam cerita yang berkesan setiap harinya. Tidak selalu indah, tidak selalu menyebalkan, namun semua bercampur menjadi rasa yang mewah.

Papah, begitu aku memanggilmu, karena engkau adalah ayah terbaik untuk anak-anak kita. Hal yg selalu membuat aku bangga adalah kau tak pernah menomorduakan keluarga. Setiap pulang kantor, pukul berapapun, kau selalu menyempatkan bermain dan merawat anak-anak. Bahkan dibandingkan aku, kau yang lebih telaten. Mengajari anak-anak membaca, menulis, menggambar. Mengingatkan anak-anak untuk sembahyang, sikat gigi, dan membaca ayat suci sebelum tidur. Menemani mereka membaca buku, latihan sepeda, bermain Lego.
Suamiku, kau punya semuanya yang dibutuhkan oleh anak-anak. Aku bangga, dan juga sangat beruntung.

Suamiku, mengenang masa lalu saat kita bertemu di bangku perkuliahan sangat menyenangkan. Ingat saat proses menuju ikrar kita yang rumit? Hingga saatnya satu tarikan nafasmu yang menghalalkan kita berdua adalah suatu keajaiban dan pertanyaan : Sanggupkah kita mengarungi perahu kehidupan dan membangun pondasi menuju Jannah Nya?

Suamiku , tak ada pernikahan yang sempurna. Tiada pelangi tanpa hujan, tiada kesuburan tanpa amukan gunung, tidak ada ketegaran tanpa krisis.
Gerimis kecil kadang datang di rumah kita. Kesalahpahaman sungguh hal yang biasa. Karena aku adalah seorang anak tunggal yang dibesarkan penuh kebebasan, dan engkau adalah anak tengah di keluarga besar yang ditempa mengalah dan disiplin, pastinya selalu butuh benang untuk menyambungkan kita berdua.

Maafkan aku suamiku, selama ini aku selalu egois. Memang katanya jika wanita zaman sekarang, entah karena pendidikan tinggi atau emansipasi, sulit untuk disuruh menurut. Terlebih aku, yang sedari kecil dididik untuk berekspresi, sehingga selalu sering menentang argumenmu.

Maafkan aku suamiku, aku yang belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Maafkan aku yang selalu banyak menuntut, terlebih perhatianmu. Maafkan aku yang egois, terkadang lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan keluarga.

Terimakasih suamiku..
Terimakasih telah menerimaku apa adanya. Terimakasih atas kemakluman bahwa aku punya janji untuk membahagiakan ibuku. Terimakasih atas izin dan ridhomu untuk aku bekerja dan mewujudkan mimpi-mimpiku yang lain. Terimakasih telah sabar menerima limpahan kerewelan yang tidak penting , keluh kesah yang absurd, serta cobaan dari mood rollercoaster-ku

Suamiku.. Terimakasih telah menjadi imamku.
Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan kebaikan untuk rumah tangga kita.

Bandung, Mei 2017
“Menuju tahun ke-8, dan puluhan tahun berikutnya “

Sebait harapan

Tuhan, berikanlah sesuatu pada diriku yang akan membuat ia jatuh hati padaku
Ataukah sesuatu itu sudah ada, namun belum memikat hatinya?
Ataukah hatinya telah terpikat, namun aku belum tahu?
Ataukah dia akan terpikat, namun Engkau memeramnya dalam waktu?
Ataukah dia tidak akan pernah jatuh hati padaku?

Apakah yang akan kulakukan?
Membunuh dia dalam ingatan, ataukah tetap menunggunya dalam pikiran?
Apa yang harus kulakukan?
Menunggu takdir menyembelihku, ataukah mengejarnya sepanjang waktu?
Apa yang harus kulakukan?
Aku, ataukah Tuhan yang Maha Tahu?

Maka aku akan bernafas di detik ini dan kemudian.
Menunggu waktu-Nya menetas.
Dan anugerah cinta Nya meleleh di kalbu.

Bandung, di hari yang sangat panas.

Jatuh cinta

Jatuh cinta, darimana dia datang?
Apakah asalnya sama seperti hujan, kabut dan embun?
Apakah langit yang melahirkannya?
Ataukah asalnya sama seperti aku, kambing dan buah?
Apakah makhluk yang menetaskannya?

Mengapa dia selalu tergopoh-gopoh?
Datang dengan tiba-tiba, pulang tanpa permisi.
Ataupun dia selalu lekat?
Datang dalam hasrat, pulang terpatri.
Dan dia selalu bermain-main?
Datang dengan senyum, pulang dengan perih.

Apa yang kau cari pada diriku, wahai jatuh cinta?
Mengapa kau selalu membuat sengatan yang hebat, menaikkanku ke dalam perahu layar, lalu memporak-porandakanku di lautan getir?
Apa yang kau inginkan dariku, jatuh cinta?
Tak hentinya kau mendebarkan jantungku, memompa kehampaanku, dan memeras tangisku?
Katakan padaku wahai jatuh cinta, mengapa kau tidak pergi saja dari kehidupanku saat ini?
Kuperingatkan padamu wahai jatuh cinta, janganlah datang lagi, selain membawa senyum dan bahagia padaku.

Bandung, Mei 2017