Rapat Koordinasi Pengelola Jurnal Ilmiah

Berdasarkan Peraturan LIPI dan Dirjen Dikti tahun 2014, jurnal ilmiah dianjurkan berbentuk elektronik. Jurnal ilmiah sangat bermanfaat: sebagai wadah peneliti berkarya & angka kredit, sarana komunikasi peneliti & pengambil kebijakan, bahan perumusan kebijakan.

Mengapa harus e-journal? Memotong ongkos produksi, mempercepat proses pengiriman naskah, dan penyebaran nya lebih luas.

Langkah membuat e-journal: penganggaran, membentuk pengurus dan aplikasi ( jangan struktural), daftar ISSN jurnal cetak, daftar ISSN e-journal,pengumpulan artikel.

Jurnal yang baik memiliki judul yang spesifik/tidak gado-gado. Sertifikasi jurnal dapat dilakukan lewat LIPI atau DIKTI. Dari 32 jurnal di lingkup Kemendagri Indonesia, hanya 3 yg telah tersertifikasi (BPP Kemendagri, prov Sumut, Prof. Kalsel).
170830023735.jpg

Advertisements

Aku bukan tukang cilok

Hari ini, dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang, aku akan dan tengah belajar menerima bahwa, tidak semua orang bisa menyukaiku, dan aku tidak bisa membahagiakan semua orang.

Karena aku bukan tukang es krim, apalagi tukang cilok (yang sangat digemari di wilayah gerlong dan sekitarnya).

Selama ini aku menyukai keadaan damai, suasana yang nyaman,aku menghindari konfrontasi, menjauh bila ada pertikaian, tidak menyuarakan pendapat yg berbeda karena takut dijauhi, takut tidak punya teman, takut dikucilkan, takut dibully, takut diculik lalu diasingkan ke Digul, dan lain-lain.

Selama ini aku berfikir, bahwa harus punya hubungan baik (yang terkadang palsu) dengan banyak orang, harus banyak melempar pujian dan terbiasa dengan basa-basi, serta haram bagiku punya musuh, semata-mata karena aku takut suatu saat akan mencelakakan masa depanku, menghambat rencana-rencana besarku dan lain-lain.

Dari situ saja aku sudah seperti orang tak bertuhan, kenapa takut, kan punya Allah ?

Maka saat aku memancing konflik yang sudah terdedak sekian lama di lingkaran terdekatku, semata-mata karena aku melihat ketidakadilan. Aku melihat ada yang salah. Kupilih tulisan yang biasa saja (tidak terlalu ganas) padanya di grup chat, tapi ternyata respon dia sangat lebay,oke. aku siap untuk dijauhi olehnya. Dan aku juga siap suatu hari dia sadar bahwa dia salah. Semoga Allah memberikan dia hidayah.

Dahulu, aku terlalu lembek dalam merespon ketidakadilan. Suatu hari aku mengingatkan orang yang menyerobot antrian ku, karena dia acuh aku mengingatkan dengan agak keras. Dan, suamiku malah memarahi aku, katanya aku lebay (?) . Hey,  aku tahu dia salah. Buat apa malu mengingatkan orang lain? Harusnya dia malu karena mempermalukan dirinya sendiri.

Tapi, selain takut diasingkan dari pergaulan dan kekinian, ada bayangan mencekam hadir di pikiran ketika aku ingin bertindak lebih banyak. Suamiku kembali marah ketika mendengar ceritaku menegur sopir angkot yang ugal-ugalan. Katanya : nanti kamu malah diculik, dicelakain,gimana kalau dia sakit hati. Tapi aku beralasan, ketika itu sedang banyak orang di angkot, dia tidak akan berani. Tapi kalau lagi sendirian? Lalu bertindak sangat heroik? Ah , seperti nya aku masih jauh dari kata berani, aku hanya seorang pengecut, tapi bukan pengemis cinta (dangdut dikit).

Tapi setidaknya aku akan terus belajar. Menjadi diriku yang sebaik-baiknya, tidak ikut-ikutan karena faktor lingkungan dan ngetrend. Tidak banyak menjilat, bermanis-manis padahal pahit. Biasa saja, sederhana saja, sesuai saja.

Semoga Selalu berpegang pada kebenaran dibanding kemudahan. Karena kebenaran itu sulit.

Wah, jadi inget Diklat prajabatan, hehe.

Mudah-mudahan Allah selalu menguatkan.

 

Salam extrajoss, korhejdalle😎😎

quote-Ricky-Nelson-you-cant-please-everyone-so-you-gotta-26660

Bermain dengan abdul

Hari ini kembali bermain bersama Abdul ala-ala tes wartegg. Saya bikin garis2, Abdul ngelanjutin. Yang diperhatikan bukan bagus engga nya gambar , tapi merangsang untuk berfikir dan kreatif. Setiap gambar saya minta dijelasin, karena emang anak cowok, kebanyakan gambar transportasi. Angka2 disudut menunjukkan urutan selesai nya gambar.
Karena bukan background psikologi jadi gak bisa “nerawang” hasil gambarnya , hehe. Nu penting mah bermain sambil belajar.
Manusia yang dibutuhkan dunia saat ini bukan sekedar pintar, tapi kreatif dan inovatif agar tetap produktif.

IMG_20170826_194522_839

IMG_20170826_193830_HDR

Menulis

Aku menulis karena memang ingin menulis, bukan menulis karena ingin tulisanku dibaca. atau dijual.

Aku menulis karena dirasa dapat menghalau berbagai energi negatif, jadi paling cocok dilakukan kalau lagi kurang positif.

Ingin menjadikan menulis sebagai kebiasaan, tapi sekarang masih terbatas pada mood. Serta ketersediaan waktu luang.

Untuk semua pembaca blog ini, siapapun kamu,terimakasih, semoga tidak bosan.

Korhejdalle

Perlukah rapor warga di Kota Bandung?

Adalah #Bandung1, yang suatu hari mengutarakan idenya untuk membuat kebijakan berupa Rapor Warga. Saat itu terjalin kerjasama antar Pemkot dengan ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Kota Bandung mengenai perumusan hingga peluncurannya.
Tujuan awalnya adalah untuk mengukur partisipasi warga dalam pembangunan di Kota Bandung, selanjutnya adalah untuk meningkatkan kembali rasa gotong royong, yang dirasa sudah perlahan-lahan hilang tergerus zaman dan ramah tamah tidak lagi dijadikan prioritas setelah teknologi informasi kian dahsyat. Idealnya, warga yang guyub dan saling mengenal akan mengurangi peredaran terorisme dan narkoba, serta pertikaian dan permusuhan.

Selanjutnya, bagaimana metodologi pengukurannya? Saat kajian awal yang dilaksanakan pada Bagian Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah, diuraikan bahwa setiap kepala keluarga di Kota Bandung akan memiliki rapor, yang akan dinilai oleh RT nya, atau warga yang akan menilai nya sendiri. Setelah itu warga akan mendapatkan hasil : rapor merah bila nilainya buruk , kuning bila sedang, hijau bila baik. Parameter yang digunakan ada 9, dan setelah dilakukan kajian teoritis bertambah menjadi 15 (kita bahas parameter nya kemudian).

Logikanya, bagaimana secara psikologi ketika warga mendapat rapor nya merah, kemungkinan ada 3 : dia berusaha agar nilainya naik, dia marah karena nilainya buruk, atau dia makin tidak peduli. Mungkin malah pemerintah yang disalahkan, karena warga disamakan dengan murid sekolahan.
Belum ada pembahasan rinci mengenai penilaian rapot ini, dan bagaimana selanjutnya kemungkinan yang akan terjadi di lapangan .
Menurut saya pribadi, ini terlalu sulit dilaksanakan, karena akan ada bias pada penilaian, terlalu subyektif. Jika menilai diri sendiri (self assessment) : sebagian besar akan mengisi dengan yang baik-baik. Karena,  takut akan mendapatkan hukuman . Jika dinilai oleh Kepala RT atau RW setempat maka: apakah saat ini pembinaan kepada kepala daerah versi mini tersebut sudah benar-benar mumpuni, terutama, sudahkah mereka mengenal warga di lingkungannya? Sudahkah mereka mengetahui dan mengerti mengenai ilmu-ilmu kepemerintahan? Dan apakah semuanya memiliki itikad serta niat tulus untuk menilai secara objektif? Atau jangan-jangan ditolak karena  pekerjaan mereka saat ini saja sudah banyak ? (lalu apakah insentifnya akan naik dan sebanding? Berapa besarannya?).

Banyak hal yang perlu dikaji  sebelum program ini dilemparkan kepada masyarakat. Prof. Budiman Rusli mengungkapkan saat “Seminar Kajian Pengembangan Indeks Kemasyarakatan” di Balaikota Bandung :

“Ini adalah suatu langkah positif yang berani. Biasanya warga yang menilai pemerintah, sekarang pemerintah yg menilai warganya . Rasanya ini merupakan hasil dari pencapaian program Pemerintah Kota yang cukup baik, sehingga dirasa perlu meningkatkan peran serta masyarakat”.

Pergeseran paradigma dari goverment menjadi governance saat ini ditandai oleh adanya partisipasi peran multiaktor dalam pembangunan, termasuk masyarakat. Pemerintah sudah seharusnya memberi ruang keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap untuk mewujudkan proses pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu program Pemkot Bandung yang melibatkan partisipasi warga adalah Musrenbang (Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan) lewat forum rebuk RW, serta PIPPK (Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan) sebagai realisasi dari konsep desentralisasi. Setiap RW, Karang Taruna, PKK dan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) di setiap wilayah di Kota Bandung diberikan anggaran masing-masing 100 juta per tahun untuk percepatan pembangunan, menuju kualitas kehidupan warga yang lebih baik. Maka konsep awal dari program ini adalah, suatu daerah yang memiliki nilai rapor (akumulasi) terbaik akan diberikan porsi anggaran pembangunan yang lebih besar – sehingga timbal balik- prioritas pembangunan akan diberikan pada warga-warga yang giat berpartisipasi.

Niat awal dari program ini tentunya sangat baik, sebagian besar tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat, bahwa sebagus apapun program yang digulirkan oleh pemerintah, semegah apapun infrastruktur yang dibangun, bila masyarakat tidak ikut terlibat, tidak ikut merawat, tidak ikut mengevaluasi, maka hal tersebut akan sia-sia tergerus waktu. Prof. Budiman Rusli kembali menuturkan bahwa, pembangunan fisik sangat mudah, dalam hitungan bulan, sebuah fasilitas dapat terlihat wujudnya, namun pembangunan manusia memakan waktu serta proses yang lama. Sebagai contoh pengadaan sarana tong sampah yang mumpuni, tapi tidak dapat dimanfaatkan oleh warga dengan baik. Begitu pula dengan pembangunan trotoar, yang akhirnya dirusak oleh kegiatan jual-beli.

Perbaikan pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kelembagaan, terutama pembinaan untuk 9.884 RT dan 1.584 RW di Kota Bandung. Untuk program PIPPK yang sudah lama bergulir pun, masih banyak bolongnya, masih banyak yang belum paham. Ini menjadi hal yang krusial dalam peluncuran rapor warga yang akan menjadikan RT dan RW sebagai garda terdepan. Selain itu, remunerasi para RT dan RW juga merupakan hal yang perlu disentuh.

Selain itu, ada rekomendasi lain yang dapat dilakukan agar penilaian rapor warga ini bersifat lebih objektif, yaitu dengan melakukan pengukuran secara sampling. Nilai yang didapat selanjutnya menjadi nilai indeks kemasyarakatan, yang dapat dipergunakan sebagai analisis dan rekomendasi bagi para pemangku kebijakan. Jika rapor warga melibatkan seluruh populasi kepala keluarga, dan kemungkinan mengharuskan durasi waktu yang tidak sebentar, pelaksanaan survey dapat dilakukan secara lebih efektif. Nilai indeks kemasyarakatan ini nantinya dapat dipergunakan sebagai feed-back kepada wilayah yang warganya kurang partisipatif, kurang rukun, dan lainnya. Masalah punishment dan reward juga harus dibahas dengan lebih rinci.

Sebentar, perlukah saya menjelaskan lebih lagi tentang pentingnya partisipasi masyarakat? Di negara maju, tidak ada yang namanya tingkat kerukunan, hampir seluruh warganya individualistis, dan mereka berpartisipasi dengan cara memberikan pajak yang tinggi. Namun di negara kita, yang sudah diwariskan oleh leluhur betapa indahnya saling bergotong royong, bahu membahu, serta silaturahim sebagai hal penting yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk kebaikan manusia, tidak serta merta dapat digantikan oleh besaran “pajak”. ini hanya kesimpulan saya, berdasarkan literatur  : Hubungan sosial yang baik dapat menciptakan kehidupan yang lebih bahagia. Sehingga, warga yang rukun akan menghasilkan warga yang bahagia. Menurut Walikota Bandung, Singapura- yang memiliki infrastruktur mewah dan fasilitas terbaik saja, tidak dapat menjadikan warganya bahagia. sebagian malah sress, sebagian malah ingin pindah, sebagian ada yang bunuh diri. Oleh sebab itu, kota yang sehat secara jasmani dan rohani harus berawal dari warga yang bahagia, dan kebahagiaan ini harus menjadi poin penting dalam tujuan pembangunan di Kota Bandung. Karena, tidak ada satu pun manusia yang menolak untuk bahagia.

Maka, perlukah rapor warga di Kota Bandung? tergantung, sesiap apa warga masyarakat dan seluruh stakeholdernya.

Sekian, maaf awut-awutan.

Korhejdalle, agustus 2017

 

Cinta itu rahasia

Sering ditemukan di sebuah percakapan kepo atau curhat : ” tipe cowok kamu kayak apa sih? Kamu suka cewek yang gimana sih?”

Mungkin jawabannya beda-beda, dan pasti beda-beda, dan akan selalu beda! Dan sebenarnya manusia gak akan pernah tahu, dengan siapa dirinya jatuh cinta, karena itu rahasia!

Ada kisah seorang pemuda yang bikin statement dengan kenceng : “saya mah kalau punya istri embung (gak mau) orang Jawa, gak item, bukan anak ITB ! ” . Entah darimana bisa keluar kriteria seperti itu, kayaknya sih ada dendam masa lalu 😁😁. Lalu ternyata, jodoh yang jadi istrinya itu orang Jawa, anak ITB, berkulit item ! Kata orang Sunda mah : dipoyok dilebok ( udah dihina eh diembat). Argumen apa yang bakal dia bilang setelah nikah : jodoh itu misteri. Ya, karena jatuh cinta itu gak pandang bulu . Eh maaf, bulu hanya ada pada unggas.

Kasus saya, di pergulatan cinta monyet ( berarti saya teh monyet gitu? Apa saya juga pergi ke barat mencari kitab suci?) , Pernah bikin cita2 kalau nanti punya suami harus lebih tua, jauh lebih tua, tapi jangan sampai peot atau busuk, sih. Tapi nyatanya saya jatuh ke pelukan lelaki sebaya, ciyeeehh. Dan rata2 nyantol nyambungnya ke yang seumuran.

Terus dulu pernah punya kriteria : cowok idaman saya mah yang selera musiknya bagus , suka main band,rambutnya gondrong. Padahal bukan selera, tapi merujuk ke 1 orang yang pernah jadi idaman, cowok sekelas yang mirip Julian Casablancas nya the strokes 😁😁. Terus lanjut dengan idamannya cowok aktivis, karena zaman kuliah lagi kesengsem Ama ketua himpunan. Ya gitu deh, berubah-rubah gimana zaman.

Yaa ternyataa , kita gak pernah bisa tau spesifikasi orang apa yang akan kita suka, jodoh kita seperti apa, sesungguhnya kriteria yang kita buat adalah akumulasi dari mantan-mantan di masa lalu, idola yang ada di memori, atau bersentuhan langsung dengan tipe yang dimaksud. Bisa juga pengalaman dengan melihat perilaku2 orang tua dan gaya kehidupan di rumah.

Jadilah, cinta itu rahasia . Ya rahasia yang punya hati . Hari ini bilang gak suka sama cowok brewok , besok bisa jadi rubah. Karena cinta itu gak bisa memilih, meskipun ingin . Cinta itu gak bisa diprediksi, dan jatuh cinta bukan karena dia sesuai kriteria, sejatinya hanya adanya chemistry. Chemistry ini bukan nama jurusan kuliah MIPA di ITB, kata orang sunda mah : ngarenyed, ada aliran listrik, ada sesuatu yang bikin rindu, ada yg tiba-tiba membuat dentuman di dada. Alasannya bisa karena dia seseorang yang  membuat kita nyaman ,atau yang kedua, bisa jadi karena dia idola dan mengagumkan.

Jadi jangan main rahasia-rahasia an lagi, karena cinta nya udah rahasia, kata netral mah : “kalau kau suka padaku, kenapa sih musti malu, katakan saja” (kalau gak ditolak , ya diterima, atau ya di friend Zone😁)

With love and tunduh ,

Agustus 2017. Korhej Dalle.

Quotation-Rabindranath-Tagore-mystery-love-Meetville-Quotes-89844