Teach Like Finland : Bagian 1

Sebagai seseorang yang memiliki passion di bidang pendidikan dan mengajar, atau karena garis keras keturunan para mengajar, saya tertarik sekali untuk membaca buku Teach Like Finland ini. Penasaran, bagaimana daleman sistem dan cara pendidikan di negara yang katanya juga mengedepankan “kebahagiaan warga”-nya itu.

Pasi sahlberg dalam introduction di bagian awal buku ini berhasil merangkum  rahasia keberhasilan Finlandia dalam pendidikan :

  1. Pendidikan yang merata : Kurikulum sekolah di finlandia memiliki porsi yang sama untuk semua mata pelajaran sehingga memberikan kesempatan bagi  semua anak untuk mengolah bakat dan kepribadian. Dan utamanya : semua sekolah harus menjadi sekolah baik, dengan mayoritas siswa berada dalam kelas yang heteregon dari status sosial dan ekonomi. Saat ini, di Indonesia sudah menerapkan kebijakan sistem zonasi sekolah dengan impact jangka panjang pembentukan sekolah yang berkualitas dan merata di setiap daerah. Namun, dalam implementasinya masih banyak kendala, sehingga  kebijakan ini dirasa tidak populis, terlihat dari banyaknya keluhan yang disampaikan masyarakat mulai dari demonstrasi di jalan hingga ke surat kabar dan sosial media. ini yang perlu di evaluasi, karena pasti, tujuannya sudah baik. Tidak perlu ada stereotype sekolah unggulan, karena sejatinya sekolah berkualitas itu yang dapat menggodok para pelajar menjadi baik, bukannya sekolah unggulan yang inputnya saja sudah murid-murid yang pintar. 
  2. Pengajar yang berkualitas : para guru harus lulus dari program magister berbasis penelitian, diharuskan mempelajari psikologi anak, pedagogi, pendidikan khusus, dan kurikulum yang lebih banyak dibanding lulusan lain di perguruan tinggi. Para guru pun harus merancang kurikulum sekolah mereka dan memilih cara yang paling efektif untuk mengajar. Penguatan profesi guru dan mendorong peningkatan status serta ketertarikan bagi anak2 muda untuk mau menjadi guru. Bagaimana dengan di Indonesia? sepertinya kesejahteraan para guru hanya bertumpu pada sertifikasi ya. dan kondisi yang saya alami, banyak para guru yang lebih mementingkan materi lewat bimbingan belajar, sehingga ada kesan : tahu seperlunya aja, paham nya di Bimbel. 
  3. Kesetaraan pendidikan yang kuat di Finlandia, dengan pembentukan Tim Kesejahteraan Siswa di setiap sekolah. Setiap anak harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
  4. Kepala sekolah yang memiliki kualitas untuk mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Hirarki kepemimpinan di sekolah yang merata, sebagian besar kepala sekolah juga mengajar para siswanya selain menjalankan tugas kepemimpinan. Ini menjadikan pengalaman di kelas dan tetap memiliki hubungan langsung dengan anak-anak murid. Saya setuju banget sama yang ini, tapi.. Di Indonesia gimana ya??
  5. Tetap aktif dengan kegiatan di luar sekolah dan minimal memiliki 1 hobi, mampu mendorong performa anak-anak finlandia di sekolah. Terdapat sekitar 100,000 asosiasi non pemerintah dengan sekitar 15 juta anggota di findalia yang menunjukkan bahwa orang Finlandia secara aktif ikut serta dalam berbagai macam kegiatan diluar sekolah. Kenyataannya, saya adalah orangtua yang sangat mendorong anak-anak saya untuk tetap aktif dan bergerak : saya daftarkan di ekskul untuk olah tubuh seperti futsal, taekondo atau bermain musik. dengan belajar hal-hal baru, dan ditekuni sebagai hobi, memberikan pengalaman yang akan mengisi laci-laci baru di otak dan mengembangkan kepribadian yang baik. 

Sekian sedikit cuplikan dari buku keren ini, lanjut di kemudian hari

Salam, Essa Agustus 2017

semoga bisa menulis satu minggu sekali disini!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s