Aviophobia

Phobia adalah suatu ketakutan dengan intensitas berlebihan karena faktor tertentu, seperti trauma masa lalu, maupun pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Phobia dapat dialami siapapun. Terdapat bermacam-macam jenis phobia, salah satunya adalah aviophobia, yaitu ketakutan ketika berada di dalam pesawat terbang. Seseorang dikatakan mengidap aviophobia berdasarkan intensitas waktu panik saat melakukan penerbangan. Jika rasa panik seseorang hilang kurang lebih selama 10 menit, itu tandanya orang tersebut hanya panik biasa sehingga tidak dikaregorikan sebagai aviophobia. Sebaliknya, jika ketakutan tadi terus berlanjut hingga lebih dari 10 menit, dapat dikatakan bahwa orang tersebut mengidap aviophobia.

Entah sejak kapan phobia ini menyergap saya. Setelah muncul ketiba-tibaan lain yang saya alami seperti : phobia melahirkan, ketinggian, cucunguk dan serangga lainnya, darah dan jarum suntik,.. phobia jatuh cinta (ahey!) …dst…(dan mudah2an gak nambah lagi).

Cerita sedikit tentang Phobia melahirkan, yang datang ketika teman dan Kaka kelas terbaik di Biologi, Retna, meninggal setelah melahirkan anak keduanya di RS tempat saya melahirkan anak pertama dan kedua. Tiba-tiba jadi parno RS tersebut, dan ketika menjelang kelahiran anak ketiga didera ketakutan yang parah pada pendarahan dan apapun setelah melahirkan. Akhirnya saya pindah ke RS swasta yang besar ( yang saya pikir lebih mumpuni mengatasi kasus2 pasca melahirkan yg sulit) dan rutin mengikuti hypnobirth-ing (isinya tiduran sambil mendengarkan musik selama sejam penuh, gak tau ngefek apa engga ya), dan tentu saja ikutan senam hamil. Alhamdulillah lahiran anak ketiga saya lancar , atas izin Allah, walaupun penuh kecemasan, dan yaa pastinya, saya parno kalau disuruh hamil lagi (dan juga parno pake KB IUD yang bobol!).

Plane phobia? sebenernya saya pertama naik pesawat udaah lama jugaa… Pas  SD kelas 3 dengan rute Bandung-Jakarta.  Inget bangett waktu itu diinstruksikan pasang seatbelt untuk take-off, lalu dibagiin roti-roti mungil dan jus sama pramugari cantik, dan gak lama udah pengumuman landing untuk pasang seatbelt lagi..bentar banget😂. Trus kelas 5 SD nya diajakin umroh, dan selama 8 jam-an sukses tidur lelap di pesawat.

Nah, kalau gak salah semenjak punya anak (dan banyak dosaa?) mendadak takut terbang. Gejalanya : H-1 terbang diare mendadak. Setelah check in : sakit perut, deg-deg-an, pernah sampai mencret bolak balik WC bandara (atulaahhh). Di atas pesawat : mual, gak selera makan, cemas berlebih, selalu liatin jam, liatin jendela, mondar mandir WC, baca Qur’an berulang-ulang, dzikir, dan bernazar sangat banyaak (trus udah nyampe darat lupa aja nazar nya apa aja, Ya ALLAH maapin essaaa!!😅).

Penyebab lain dari paranoid berlebih ketika terbang ini (kayaknya) akibat menonton film yang jaman SMP booming : final destination. Disitu diceritakan si Devon sawa (yg masih unyu) gak jadi naik pesawat, dan ternyata pesawat  itu meledak pas take off. Kepikiran bahwa pesawat kalau meledak, udah gak bersisa apa-apa, mayatnya gak bisa dikubur, dan lain-lain (huhuuuu). Trus nambah lagi nonton dan baca kejadian-kejadian nyata pesawat jatuh (katanya takut tapi penasaran aja diulik kenapa jatuhnya ), sampai demen nongkroning air crash investigation nya Nat geo channel 😂😂.
Dan lagi, ya mungkin faktor U yah. Makin menua makin parno, karena tahu banyak dosa (hiks hiks), dan blum siapa aja gitu ninggalin anak-anak.

Walaupun sebenernya fakta menyebutkan kecelakaan di darat jauh lebih banyaak, dan pesawat tuh moda transportasi paling safety.. tetep aja nih si parno menyergap. Sewaktu umroh 2009, saya minum antimo sampe 2 biji pas nunggu take-off. Di ruang tunggu udah kriyep-kriyep ngantuuk, tapi pas udah di atas, MELEK sempurna! udah mencoba menghipnotis diri sendiri : ayo tidur… ayo tidur…. , tapi cuman bisa merem doang. Turbulence dikit aja udah langsung shock! Mantau maps, udah dimana nih? kalau goyang-goyangnya di atas laut langsung kepikiran : gimana kalau jatuh disini? kayaknya gak akan ketemu dan langsung dimakan hiu (naudzubilla Ya Rabb!). ah pokonya susah banget menghalau si negatif-negatif itu. Jadi, bayangkanlah… CGK-Jeddah  8 jam dan CGK-Narita 7 jam gak bisa tidur sama sekali, merem doang pun aku tak sanggupp…. nyampe darat barulah tepaarr…!

mungkinkah, phobia ini akan hilang jika saya rutin naik pesawat? (Sebulan sekali gt? Liburan sebulan sekali? Boleh lah asal gratis😂).

Mudah-mudahan Allah menyembuhkan. Aaamiinn…

ing

ingatlah kalau mau ke tempat2 yang kau pengen, menujunya kudu naek pesawaatt!!! sebab kalau naik becak moal nepi nepiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s