Aku bukan tukang cilok

Hari ini, dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang, aku akan dan tengah belajar menerima bahwa, tidak semua orang bisa menyukaiku, dan aku tidak bisa membahagiakan semua orang.

Karena aku bukan tukang es krim, apalagi tukang cilok (yang sangat digemari di wilayah gerlong dan sekitarnya).

Selama ini aku menyukai keadaan damai, suasana yang nyaman,aku menghindari konfrontasi, menjauh bila ada pertikaian, tidak menyuarakan pendapat yg berbeda karena takut dijauhi, takut tidak punya teman, takut dikucilkan, takut dibully, takut diculik lalu diasingkan ke Digul, dan lain-lain.

Selama ini aku berfikir, bahwa harus punya hubungan baik (yang terkadang palsu) dengan banyak orang, harus banyak melempar pujian dan terbiasa dengan basa-basi, serta haram bagiku punya musuh, semata-mata karena aku takut suatu saat akan mencelakakan masa depanku, menghambat rencana-rencana besarku dan lain-lain.

Dari situ saja aku sudah seperti orang tak bertuhan, kenapa takut, kan punya Allah ?

Maka saat aku memancing konflik yang sudah terdedak sekian lama di lingkaran terdekatku, semata-mata karena aku melihat ketidakadilan. Aku melihat ada yang salah. Kupilih tulisan yang biasa saja (tidak terlalu ganas) padanya di grup chat, tapi ternyata respon dia sangat lebay,oke. aku siap untuk dijauhi olehnya. Dan aku juga siap suatu hari dia sadar bahwa dia salah. Semoga Allah memberikan dia hidayah.

Dahulu, aku terlalu lembek dalam merespon ketidakadilan. Suatu hari aku mengingatkan orang yang menyerobot antrian ku, karena dia acuh aku mengingatkan dengan agak keras. Dan, suamiku malah memarahi aku, katanya aku lebay (?) . Hey,  aku tahu dia salah. Buat apa malu mengingatkan orang lain? Harusnya dia malu karena mempermalukan dirinya sendiri.

Tapi, selain takut diasingkan dari pergaulan dan kekinian, ada bayangan mencekam hadir di pikiran ketika aku ingin bertindak lebih banyak. Suamiku kembali marah ketika mendengar ceritaku menegur sopir angkot yang ugal-ugalan. Katanya : nanti kamu malah diculik, dicelakain,gimana kalau dia sakit hati. Tapi aku beralasan, ketika itu sedang banyak orang di angkot, dia tidak akan berani. Tapi kalau lagi sendirian? Lalu bertindak sangat heroik? Ah , seperti nya aku masih jauh dari kata berani, aku hanya seorang pengecut, tapi bukan pengemis cinta (dangdut dikit).

Tapi setidaknya aku akan terus belajar. Menjadi diriku yang sebaik-baiknya, tidak ikut-ikutan karena faktor lingkungan dan ngetrend. Tidak banyak menjilat, bermanis-manis padahal pahit. Biasa saja, sederhana saja, sesuai saja.

Semoga Selalu berpegang pada kebenaran dibanding kemudahan. Karena kebenaran itu sulit.

Wah, jadi inget Diklat prajabatan, hehe.

Mudah-mudahan Allah selalu menguatkan.

 

Salam extrajoss, korhejdalle😎😎

quote-Ricky-Nelson-you-cant-please-everyone-so-you-gotta-26660

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s