Cinta dan Sahabat (bagian 3- final)

Upacara hari Senin ini, tidak seperti biasanya. Ya, biasanya eky malas sekali karena acara tersebut membosankan, sehingga ia selalu kabur ke kantin atau sengaja datang terlambat untuk menghindarinya. Tapi tidak dengan hari ini, ada gairah yang menguap di dadanya, ada seseorang yang ingin ia temui, siapa lagi kalau bukan Anara. Walaupun barisan siswa kelas 3 dan kelas 1 berjauhan, Eky yang sudah tahun terakhir itu berharap bisa menemukan perempuan yang sedang diincarnya, ya meskipun dari jarak jauh. 25 menit upacara terlama yang pernah Eky ikuti telah dilalui, sembari iringan ledekan dari teman-temannya dengan istilah : bentar lagi bakalan hujan, ada kejadian langka, dan dengan lututnya yang hampir goyah berdiri dengan sikap sempurna. Saat siswa-siswa dibubarkan, Eky langsung naik ke “podium” yang sudah kosong, bagian tertinggi dari lapangan tempat pembina upacara berpidato. Matanya liar mencari sosok gadis itu dari atas sana. Dengan tubuhnya yang tinggi, Eky berharap bisa melihat Anara, ya walaupun sebentar. Tanpa sadar tepukan telah mendarat di punggung Eky. “Kamu lagi ngapain? ” . Seperti biasa, Risky yang membuyarkan kegiatan serius Eky.
“Engga, gak lagi ngapai-ngapain”
” Mau latihan pidato? ”
Eky tersenyum singkat “engga lah”
“Nyari anak kelas satu? ”
Ehm.. Risky sepertinya bisa membaca pikiran Eky. Iya juga sih, pandangan Eky sedari tadi ke kerumunan siswa-siswa kelas satu di ujung kanan lapangan.
“Anara kelas 1-10, dia ada di sebelah tengah ” . Seperti cenayang, Risky bisa tahu apa yang sedang Eky cari, ya persabatan lebih dari 10 tahun mungkin jawabannya.
Seperti elang yang menemukan mangsanya , mata Eky berbinar ketika mendapati Anara di balik kerumunan manusia berbaju putih-abu tersebut. Anara nampak sedang mengobrol bersama teman perempuannya. Eky dapat melihat rambutnya dibiarkan terurai, bersinar terkena sinar matahari pagi, pinggangnya langsing, pipinya merona merah dan senyumnya benar-benar menyejukkan. Sekejap saja dewa cupid turun dari khayangan, membuat Eky mabuk kepayang , dan takdir yang bergulir begitu harmoni, karena sekelibat bola mata anara dan Eky bertemu. Jantung Eky berdegup kian kencang, ketika Anara tersenyum kepadanya. Senyum yang penuh arti.

“Aduh, risky… Gwa ketimpa masalah nih”
” Kenapa ky ”
” Gwa kayaknya naksir anara”
Risky tersenyum. Mereka berdua sedang melangkah bersama ke kelas. Eky pun menceritakan kejadian kemarin, mengenai bingkisan yang ada di lokernya.
” Baru kali ini kayaknya elu naksir cewe ” , risky terkekeh.
” Syukurlah gwa masih normal, ris”
” Terus gimana? Mau ngajak ketemuan sama anara? ”
” Gwa mau langsung nembak aja, ris”
Eky mempercepat langkahnya ke kelas, sementara risky terdiam melongo.

……
Atas bantuan Indra yang punya adik di kelas yang sama dengan Anara, Eky bisa bertemu dengan Anara di lapangan basket. Ya, bukan tempat yang bagus untuk bertemu, tapi ini tempat paling strategis karena paling dekat dengan kelasnya Anara. Dengan alasan ingin menanyakan jadwal wali kelasnya, Eky saat ini berhadap-hadapan dengan Anara. Berdua. Lapangan basket itu sekarang cukup sepi, karena jam istirahat siswa lebih banyakb berkumpul di kantin untuk makan. Eky sangat kikuk, ia tidak percaya diri dengan potongan rambutnya hari ini. Beberapa kali ia bolak-balik kamar mandi hanya untuk berkaca dan merapikan rambutnya. Baju seragamnya yang biasanya berantakan mendadak rapi dan bersih, dengan ikat pinggang yang bagus. Eky sebenarnya merasa aneh dengan dirinya yang sangat berani ini, dan Eky merasa malu pada dirinya sendiri karena pernah berpikir jatuh cinta pada pandangan pertama itu konyol. Eky memberanikan diri karena dari info adiknya Indra, Anara masih jomblo.
” Maaf nih, mengganggu” Eky memulai pembicaraan dengan terbata-bata.
” Iya, ada apa ka? ”
Eky tidak berani menatap Anara. Perempuan dihadapannya itu masih polos, sepertinya karena baru kelas 1, Anara kemungkinan tidak tahu kalau Eky cukup terkenal di sekolah. Tapi inilah yang membuat anara berbeda, ia tidak “jual murah” seperti anak perempuan lain yang wajahnya tersipu malu-malu atau geer jika berdekatan dengan dirinya.
“Saya sebelumnya mau minta maaf karena telah marah-marah tempo hari”
” Oh, gak apa-apa kak.
“Ehmm..eh.. Anara belum punya pacar ya? ”
Anara terdiam, ia tidak menjawab. Mungkin ia bingung.
” Anara, ..emm…saya boleh gak.. kenal anara lebih dekat? “, Eky berbicara terbata-bata. Ia tak sanggup menahan kegugupannya. Keringat dingin mulai mengucur di pundak bidangnya.
Anara tertunduk. Ia tidak bergeming.
” oya..Makasih banyak ya, untuk minumannya. Enak sekali, ini sekalian saya bawa tempatnya. Ini punya anara kan ya? ”
Anara memandang tempat melamin berwarna pink itu, lalu meraihnya dari tangan Eky.
” Iya ka, ini punya saya” . Eky merasakan jantungnya meloncat. Ia senang karena benar Anaralah yang memberi bingkisan itu.
” Ehmm.. boleh gak, panggil saya Eky saja, jangan Kaka? ”
Mata anara tiba-tiba terbelalak.
” Oh, Kaka namanya Eky? ”
” Iya”
Anara menggaruk- garuk kepalanya. Ia nampak sangat bingung.
” Kenapa? ” Eky memberanikan diri bertanya.
Anara nampak menarik napas panjang sebelum berbicara kembali , ” Maaf ka, saya pikir nama teman Kaka yang kemarin itu Eky. Saya salah kirim ka, maaf ya ka. Sebenarnya saya..hmm.. ingin kenalan sama teman Kaka yang waktu itu di parkiran mobil”
Seperti disambar petir, Eky seketika mematung. Ingin rasanya ia kabur ke angkasa luar dan disedot blackhole. Pernyataan yang sangat menyakitkan. Perih dan malu. Tak disangka ternyata Anara menaruh perhatian pada Risky, bukan Eky. Salah sasaran, karena nama mereka berdua mirip.
Eky serasa mimpi. Ia malu, gengsi, sedih, marah, bercampur aduk.
Tapi ia lalu teringat masa-masa persahabatan dengan Risky, sepuluh tahun yang penuh warna. Ya, demi sahabatnya risky, ia pasti akan menerimanya.
Walaupun.. ehm, butuh waktu sih.

Sekian.

Juni 2017.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s