Cinta yang lain

Hari itu hujan turun rintik-rintik, menguapkan aroma tanah basah. Menghilangkan sejenak udara jelaga dari kendaraan di kota paling sibuk se-Indonesia ini. Aku sedang duduk di hadapan orang yang paling mengenalku, namanya Reza. Di sudut ruangan kedai kopi, dengan 2 cangkir kafein di atas meja kayu kecil. Kadang dalam pertemuan kami, tak direncanakan, hanya ingin bertemu, atau walau saling sibuk dengan smartphone masing-masing, walau tanpa obrolan penting.
Tapi nampaknya hari ini ada yang ingin Reza utarakan.
” Kamu masih sama Delia?”
” Masih” , jawabku singkat
“Sampai kapan?”
Delia. Sudah lama aku dan Reza tidak membicarakan perihal wanita ini. Beberapa waktu belakangan yang kita bicarakan biasanya tentang sepakbola atau investasi.
” Maksudmu gimana?”
Reza menatapku lekat.
” Rama, kenapa gak cari yang lain sih?” , Suaranya agak sedikit kesal.
Aku bingung.
” Memangnya kenapa? ”
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin jawabanku kurang tepat di telinganya.
” Yasudah lah. Kamu toh sudah dewasa. Kepala tiga loh, ma. Kamu tau tampang gak pas-pasan, kerja di perusahaan bonafid juga. So, Bijaklah memilih” .
Alunan lagu shoegaze terngiang di telinga. Kami berdua selanjutnya terdiam menikmati bercampurnya rintik hujan dan musik di ruangan.
Aku tahu apa maksud Reza. Tapi aku telah memilih. Delia.
…….

Masih kuingat sejuk udara dan harumnya bunga-bunga yang ada di halaman ini. Tanahnya yang cokelat, pagar besi yang sudah usang, beberapa kupu-kupu yang hinggap. Kuncup-kuncup mawar kulihat mulai menyembul, ingin menampakkan keindahannya. Terasa benar, seseorang dengan tangan penuh kasih yang merawat ini semua.
Aku pulang, Bu. Karena kesibukanku di ibukota, baru saat ini aku bisa pulang. Dengan tergopoh-gopoh aku segera memesan tiket pesawat karena sore itu ibuku menelpon ingin bertemu.

Seraut wajah malaikat menyambutku. Matanya menatapku penuh kelebutan. Kupeluk dan kucium punggung tangannya.

Sesaat kemudian kami berdua duduk di ruang tengah. Ibuku memakai kacamatanya lalu mulai merajut.
“Ibu, sehat kan? ”
” Alhamdulillah Rama..”
” Maafkan Rama baru bisa kesini lagi Bu. Setelah promosi, Rama sering pulang malam karena banyak proyek”
” Iya , tidak apa-apa nak”
Aku menyeruput teh hangat yang ada di meja.
” Rama.. kamu, kapan mau menikah?”
Aku tertegun.. sudah lama ibu tak menanyakan ini. Tentu aku harus memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat.
Kalau kata orang nyinyir : kira-kira saja, kapan kau mati, kapan kau sakit, kapan kau nikah, semuanya sudah rahasia Tuhan.
Tapi aku tidak mungkin menjawab itu.
” Kamu sudah 32 tahun loh Rama, ibu ingin lihat kamu menikah. Kamu sudah ada calon, toh? ”
Aku terhenyak.
” Iya Bu, sudah ada”
” Wah, Alhamdulillahh. Orang mana? Kapan mau kau kenalkan pada ibu ? ”
” Iya Bu, nanti Rama bawa kemari”.
Kulihat ibu tersenyum. Dengan guratan di kulitnya, aku melihat ia bahagia dengan jawabanku.

Aku menarik nafas panjang, lalu menatap foto keluargaku yang masih terpasang kokoh di sisi kiri ruang tengah ini. Ada ibu, almarhum ayah, dan dua orang saudara perempuanku, yang sekarang telah menikah dan mempunyai anak. Aku telah berjanji pada almarhum ayahku, sebelum beliau meninggal karena sakit, untuk selalu membahagiakan ibu, untuk selalu menuruti kata-katanya. Karena aku anak laki-laki satu-satunya, harus bisa menjadi penopang. Namun saat ini aku gelisah, selain karena kesibukanku yang membuatku kurang memperhatikan nya, juga karena aku belum bisa mewujudkan keinginan ibu : menikah.

Delia. Hanya ia yang selalu merajai pikiranku.

………
Delia. Ia sekarang ada di hadapanku. Kulitnya yang bersih dengan pipi merona, tak pernah terlihat tidak cantik. Senyumnya yang merekah bagai limpasan surgawi. Tingkahnya yang riang, manja dan menyenangkan siapa saja.
Kami berdua berada di taman kota, duduk di bangku taman, di suatu sore yang sedikit mendung.
“De, kemarin aku ke Semarang” , aku mengawali pembicaraan.
” Oh ya, gimana kabar ibumu, sehat? ”
” Alhamdulillah..”
Kantor kami berdekatan, hanya terhalang oleh taman ini. Sepulang kantor sebelum pulang, kami sering mengobrol disini. Tamannya relatif sepi, tidak banyak orang berlalu-lalang dan pohonnya rindang.
“Delia..”
” Ya? ”
Aku menelan ludah dan gugup.
” Kapan ya, kita menikah ? ”
Pertanyaanku pastinya menohok jantungnya. Kulihat perubahan di raut wajahnya . Ia menunduk.
” Kamu, disuruh menikah sama ibu, ya?”
” Iya..”
” Yasudah, sama Eva saja temen sekantormu. Dia kan baik ”
” Loh, kok sama Eva, aku maunya sama kamu, de”
Ia tampak lebih murung. sebenarnya aku takut membuatnya sedih. Aku takut.
” Rama, maafkan aku ya. Tapi aku tidak bisa memberikan kepastian” .
Ah.. hati ini semakin nelangsa. Tersayar-sayat pilu oleh kata-katamu itu. Meskipun aku tahu, kau akan menjawab begitu.
” Aku ingin menunggumu, de” . Aku menatapnya dalam. Bola matanya yang bulat coklat beriak-riak gelisah.
” Jangan..”
” Kenapa? ”
” Belum saatnya Rama. Tolong jangan tanyakan lagi ”
Ia pun bangkit dari duduknya. Lalu berjalan pergi meninggalkanku sendiri.
Aku termenung. Tak mengejarnya.
……
Tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba, bekejar-kejaran membasahi pori-poriku. Melimpah seperti tangisan di dadaku.

Delia, cinta adalah sebuah rasa tanpa rencana. Aku tak pernah merencanakan perasaan ini. Delia, ketika kita pertama bertemu, aku tahu hanya kau lah yang selama ini aku tunggu. Rasa itu tumbuh seketika dan memenuhi dada. Delia, bahkan di setiap doaku, hanya engkau yang terucap, hanya kau yang kuharapkan menjadi jodohku. Delia, aku ingin kita selalu bersama, mengarungi hari-hari penuh warna. Aku tak akan peduli masa lalumu, tak akan memandang kisahmu yang sudah lampau. Aku ingin menikah denganmu. Sungguh Delia, tak ada wanita lain yang bisa mengalihkan dirimu dari hatiku.

Delia, aku ingin kau tahu,
aku selalu menunggumu….
Selalu menunggumu….
Menunggumu berpisah dari suamimu..

…….

Chrisye – cinta yang lain

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s