Transportasi Umum Berbasis Teknologi di Bandung

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan penduduk Kota Bandung meningkat pesat. Jumlah penduduk Kota Bandung pada tahun 2013 menurut BPS Kota Bandung adalah 2.483.977 jiwa dengan luas wilayah 16.729,50 hektar atau tingkat kepadatan penduduknya adalah 150 jiwa per hektar. Peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung telah mempengaruhi peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi di Kota Bandung. Pada tahun 2010, jumlah kendaraan bermotor adalah 1.215.585 dengan rincian 859.411 unit roda dua dan 134.654 unit roda empat (Dinas Perhubungan Kota Bandung, 2015).

Menurut Buku Bandung Urban Mobility Project dari Dinas Perhubungan Kota Bandung, data penggunaan moda transportasi di Kota Bandung menyatakan 62% masyarakat menggunakan sepeda motor, 19% angkot (angkutan kota), 15% mobil pribadi, 3% bis, 1% taxi, dan lainnya menggunakan becak, ojek dan berjalan kaki. Penambahan volume kendaraan bermotor sebesar 9.34% per tahun tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan sebesar 1,29% per tahun di Kota Bandung. Akibatnya, saat ini semakin sulit melakukan perjalanan yang lancar dan nyaman di Kota Bandung. Kemacetan mempengaruhi kenyamanan pengguna jalan, dan terjadi bukan saja di pusat kota dan saat hari libur, tapi juga di ruas-ruas jalan lain dan di hari kerja. Selain dari banyaknya pemakaian kendaraan pribadi dan penyimpangan tata guna lahan, kemacetan di Kota Bandung juga diakibatkan belum adanya sarana transportasi masal yang nyaman, aman dan mengakomodir kebutuhan masyarakat.

Salah satu kebijakan atau perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk mengatasi permasalahan transportasi di Kota Bandung adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem transportasi yang dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan pada masyarakat Kota Bandung. Selama ini, sistem transportasi di Kota Bandung belum memanfaatkan teknologi secara optimal, padahal pemanfaatan teknologi dapat membuat sistem transportasi menjadi efisien dan ramah lingkungan. Akan tetapi, pengembangan ini juga tidak dapat lepas dari aspek sosial, dimana akan berdampak pada perubahan perilaku masyarakat Kota Bandung yang masih akrab dengan sistem transportasi tradisional.

Penggunaan teknologi transportasi dapat digunakan dalam pengembangan manajemen lalu lintas, yaitu penerapan sistem ATCS (Area Traffic Control System)  Kota Bandung yang dapat mengatur pola lalu lintas kendaraan di jalan secara adaptif dan terpadu. Selain itu, dapat juga digunakan untuk penyediaan fasilitas alih moda, penjadwalan terintegrasi, tiket elektronik terpadu, promosi penggunaan teknologi kendaraan yang hemat energi, dan lain-lain.

Bandung sebelumnya telah memiliki ATCS yang sudah menjadi bagian dari ITS (Intelligent Transportation System). Teknologi ATCS di Bandung saat ini sudah obsolete (perlu diperbaharui) dan perlu diperluas hingga seluruh wilayah Kota Bandung. Data dari kajian sebelumnya dinyatakan bahwa smart transport seharusnya merupakan perilaku perjalanan yang cerdas dengan dukungan data, teknologi dan komunikasi. Perlu diingat bahwa tidak semua high technology dapat memberikan dampak positif bagi sistem transportasi perkotaan, sehingga diperlukan pemahaman yang baik tentang perilaku perjalanan pada saat penetapan teknologi ITS. Selain itu, setiap tahapan dari teknologi ITS harus disertasi dengan edukasi, agar ITS yang diterapkan dapat menghasilkan dampak yang sigifikan

Hal menarik lainnya dari pengembangan teknologi informasi adalah munculnya moda transportasi baru berbasis aplikasi. Antusiasme masyarakat terhadap layanan transportasi berbasis aplikasi ini cukup baik. Namun, terdapat kontra terhadap kehadiran moda transportasi baru ini, yakni adanya penolakan dari pengemudi ojek dan taksi lokal. Untuk menjawab permasalahan tersebut, saat ini Pemerintah Kota Bandung tengah menyiapkan aplikasi serupa ojek online bagi para tukang ojek pangkalan, yang bernama Akod atau Aplikasi Ojek Daerah. Sistem yang diterapkan oleh Akod ini berbasis kelompok, namun regulasi harga masih harus dikaji.

Apa yang ditawarkan para penyedia layanan trasnportasi berbasis teknologi ini pada dasarnya sejalan dengan  konsep transportasi cerdas yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Bandung yang mendorong penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat. Persoalannya adalah  ketika pelayanan transportasi berbasis teknologi ini memungut uang dari jasa yang diberikannya, perlu adanya pengelolaan dan aturan yang pasti dengan melakukan pembahasan dan analisa mendalam terhadap seluruh aspek yang terkait dengan aktifitas ini, termasuk jaminan layanan, jaminan keselamatan dan keamanan, transparansi terhadap pengguna dan regulator, bebas dari unsur penipuan, tidak merugikan pihak lain, dan aspek teknis lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s