Mengenangmu

Sore itu kumendengar zuran anak keduaku menangis. Tangisannya cukup nyaring membuatku segera menutup buku yang sedang kubaca.
“Aa zuran kenapa ?”,tanyaku sambil keluar kamar mencarinya, ternyata ia sedang duduk di tangga.

 “Aa lagi sedih mah”,katanya sambil mengusap matanya. Aku menaiki anak tangga dan duduk di sebelahnya.
“Emang aa sedih kenapa, sayang?”, aku usap lembut pipinya yang basah.
“Aa inget Kakek. Kakek yang beliin mobil-mobilan ini”. Jemarinya yang mungil menunjukkan mainan mobil berwarna biru yang sedari tadi ia pegang padaku. Hatiku mencelos.
“Mamah.. bisa ngga bangunin kakek lagi? Aa pengen ketemu Kakek”
Aku pun memeluk zuran erat. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca dan akupun terisak.
“Sabar ya Aa Zuran, mamah juga kangen sama Kakek. Aa doain kakek ya. Biar Kakek masuk surga..”
Hanya itu yang dapat kukatakan pada anak berumur 4 tahun itu. Seisi rumah pun merasakan hal yang sama ketika seorang laki-laki baik hati bak sinterklas, murah senyum dan sangat lembut hatinya, selalu hangat dan tak pernah mengeluh, meninggalkan kami dengan tiba-tiba di suatu sore yang cerah.
Bapakku adalah orang yang sangat kukagumi, bahkan oleh semua orang di rumah. Beliau lah yang paling sabar, tak pernah marah walaupun kesal, tak pernah membentak walaupun sebal, tak pernah mengeluh jika sakit dan lelah.
Karena beliau juga lah, aku bisa seperti sekarang. Begitu menyayangi aku dari kecil hingga aku berumah tangga dan memiliki 3 anak. Beliau yang begitu sabar mengasuhku dan menyayangi anak-anakku.

Bapak, hanya doa yang dapat kupanjatkan. Kehilanganmu begitu mengejutkan, dan ketika kembali ke rutinitas, semua terasa sangat sepi. Aku merasa ada yang hilang, jiwa ini terasa hampa.

Tidak ada lagi tempat bercerita, berbagi sedih dan bahagia. Tak ada lagi renyahnya tawamu sambil bercerita tentang tingkah laku cucu-cucumu. Tak terdengar lagi suara radio yang setiap sore kau nyalakan. Tiada lagi suara pintu terbuka menjelang subuh ketika dirimu solat subuh ke masjid. Tak ada lagi senyumanmu yang hangat, taka da lagi tentengan makanan atau mainan kesukaan cucu-cucumu setelah kau pulang dari kantor. Tiada lagi suara permintaanmu setiap pagi : Essa, tolong nyalain air panas ya…

Bapak, terimakasih telah menjadi panutan kami semua. Aku yakin Engkau tengah berbahagia disana. Tunggulah kami hingga saatnya kita semua berkumpul lagi.

Aku rindu pak, rindu sekali…

Bandung, 30 Mei 2017. Ramadhan pertama tanpa Bapak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s