Do School Kills Creativity?

“Do School Kills Creativity?” Adalah judul sebuah paparan yang memikat, disampaikan oleh Sir Ken Robinson, seorang guru dan penulis yang concern terhadap dunia pendidikan, dalam situs pengumpul ide dan inspirasi : TED.com. Benarkah sistem pendidikan saat ini terkungkung oleh suatu metode yang reproduktif dan formal, membebani pembelajar hanya untuk menghafalkan fakta-fakta, dibanding mengenalkan “what can be”, yang dapat mengantarkan pembelajar menjadi dirinya sendiri secara orisinil?

Menurut Sir Ken, Pendidikan masa kini merupakan sistem dalam memproduksi komunitas tertentu. Menginginkan hasil : “murid yang pintar”, padahal tidak semuanya harus menjadi professor. Pertanyaan dari beliau adalah : Mengapa di seluruh dunia, matematika dan bahasa harus diajarkan lebih banyak daripada seni? Apakah hanya karena hal tersebut yg paling sering diinginkan di sebagian besar pekerjaan? Semua anak sudah memiliki potensi masing-masing, sehingga “memaksakan” hal yang sebenarnya bukan minat dari anak tersebut akan mematikan potensi yang  jika terus diasah akan terang cemerlang.

Berkaca pada negara sendiri, saat ini sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya dapat mengembangkan potensi kreatif yang ada di setiap individu. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh tradisi dan budaya, dimana angka merah dalam rapor pelajar pada mata pelajaran wajib menjadi momok bagi para orangtua, diiringi pelabelan “anak bodoh”. Adapula sistem ujian nasional yang lebih pada urusan administratif belaka, jumlah anak yang tidak lulus menjadi borok dan boomerang bagi pimpinan lembaga, sehingga kerjasama dibalik meja untuk meloloskan lewat bocoran soal merupakan hal yang tidak asing lagi.

Setiap manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dengan keunikannya sendiri. Sebaiknya, setiap individu disiapkan untuk menjadi seorang visioner dan pemimpin, dibandingkan manjadi pekerja yang mengerjakan hal-hal teknis. Kreativitas individu mutlak diperlukan dalam era globalisasi dan teknologi saat ini, utamanya untuk maju dalam terjangan kompleksitas kehidupan manusia. Dengan inovasi dan kreativitas, manusia akan lebih porduktif, karena umumnya orang yang tingkat kreatifitasnya tinggi tingkat produktifitasnyapun tinggi.

Dalam islam, konsep pendidikan dicetuskan oleh seorang tokoh bernama Abdurrahman an-Nahlawi. Beliau mengungkapkan pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur. Pertama, menjaga dan memelihara fitrah anak. Kedua, mengembangkan seluruh potensi (kreativitas) dan kesiapan yang bermacam macam. Ketiga, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak. Keempat, proses ini dilaksanakan secara bertahap dan sistematis. Sebagaimana ide yang inovatif dan kreatif hendaknya juga tak boleh lepas dari nilai-nilai luhur agama sebagai tujuan utama pendidikan Islam, yaitu menghasilkan manusia yang beradab (to produce a good man).

Perubahan dalam sistem pendidikan Indonesia harus dilaksanakan bertahap dan juga komprehensif. Utamanya, pendidikan tak akan hanya selesai di sekolah, tapi juga harus bersinergi dengan pendidikan keluarga di rumah. Seperti pepatah, Sia-sia mengajarkan ikan terbang, karena ia sudah jago berenang. Sebagai pendidik,  haruslah menghargai dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak, tidak “mengecilkan” kekurangan yang dimiliki, tapi lebih menggali potensi. Ada suatu cerita tentang seorang guru yang saat pembagian rapor/kenaikan kelas membagikan surat untuk setiap anak didiknya, isinya mengenai pompaan semangat, kebanggaan terhadap hasil yang telah diraih selama proses pembelajaran, dan ucapan terimakasih telah menjalani sekolah dengan baik. Hati seorang pembelajar akan tersentuh dan dihargai bila diperlakukan demikian, dibandingkan merasa kecil karena pembeberan nilai yang tidak sesuai standar. Di mata saya pribadi, tidak layak sistem pendidikan saat ini memakai angka dalam penilaian, karena setiap individu itu baik, dan kalaupun tidak baik harusnya didorong agar menjadi baik.

Sebagai orangtua, haruslah mengecilkan ego pribadi. Ada yang menginginkan anaknya menjadi dokter, padahal anaknya suka sekali menari. Saya pribadi berprinsip, apapun professi yang diinginkan anak itu baik, asalkan hal tersebut merupakan minatnya serta dalam koridor kebaikan : menjadi manusia yang bermanfaat, jujur dan adil. Siapkan anak-anak kita untuk masa depan, karena kita tidak dapat melihat keseluruhan masa depan itu.

Bandung, 2 Ramadhan 1438 H

(dari TED.com dan berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s