Rapor Warga Kota Bandung

Globalisasi dan arus informasi teknologi yang tidak terbendung tentunya menghasilkan berbagai dampak negatif, diantaranya tergerusnya kearifan lokal dan maraknya persoalan kemasyarakatan seperti individualisme dan menurunnya jiwa gotong royong. Bandung yang merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia, yang hingar-bingar oleh para pendatang pun tak dapat menampik banyaknya isu-isu sosial yang bermunculan. Permasalahan di perkotaan yang padat penduduk pada era modern sekarang ini adalah kurangnya rasa kepedulian sosial.

Pembangunan kebudayaan tertuang pada Misi ke-3 dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangan Menengah Daerah) Kota Bandung 2013-2018 yaitu membangun masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berdaya saing, dimaksudkan bahwa Pemerintah Kota Bandung bertanggung jawab dalam mewujudkan warganya yang sehat, cerdas dan berbudaya. Salah satu indikator misi tersebut adalah meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan keragaman budaya untuk mendukung terwujudnya karakter/jatidiri bangsa yang memiliki ketahanan budaya lewat indeks gotong royong dan indeks toleransi.  Persoalan kebudayaan merupakan salah satu penghambat proses pembangunan. Hal ini berkaitan dengan persoalan karakter dan mental manusia, sebagai aktor utama pelaksana pembangunan. Seringkali timbul permasalahan, dimana ketidakberhasilan program pembangunan di daerah disebabkan oleh kurangnya dukungan dari faktor budaya masyarakat tertentu.

Pada Tahun 2016 Pemerintah Kota Bandung meluncurkan inovasi berupa rapor warga/ rapor indeks kemasyarakatan. Indeks Kemasyarakatan adalah data dan informasi tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan sosial kemasyarakatan yang diperoleh dari pengukuran secaran kuantitatif dan kualitatif atas pendapat masyarakat dalam kontribusinya terhadap pembangunan sosial kemasyarakatan dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhan. Tujuannya untuk mengetahui partisipasi masyarakat secara berkala sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka peningkatan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan Kajian awal Pengukuran Indeks Kemasyarakatan Kelurahan yang disusun oleh Bagian Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah Kota Bandung di Tahun 2016, Lingkup Indikator Indeks Kemasyarakatan, meliputi : Ketaatan Masyarakat Terhadap Administrasi Kependudukan, Hubungan dengan Lembaga Kemasyarakatan, Partisipasi Masyarakat dalam Kebersihan, Partisipasi Masayarakat dalam Keamanan Lingkungan, Ketaatan dalam Membayar Pajak, Pemahaman terhadap Perda K3, Partisipasi dalam Bergotong Royong, Partisipasi dalam Kegiatan Sosial, dan Partisipasi dalam Penghijauan. Namun, indikator pengukuran indeks kemasyarakatan tersebut perlu dilakukan penyempurnaan, karena belum adanya variabel dan parameter yang ditentukan berdasarkan hasil kajian yang komprehensif.

Rencana tindak lanjut dari pengukuran indeks kemasyarakatan adalah menjadi acuan atau pedoman dalam pembangunan di kewilayahan. Wilayah yang terdata banyaknya warga yang aktif dalam kegiatan masyarakat akan mendapat alokasi dana pembangunan yang besar dari Pemerintah Kota Bandung, sementara kawasan yang indeks kemasyarakatannya rendah akan diberikan strategi khusus. Selain itu, perlu dikaji dampak pro kontra yang akan terjadi dalam penerapan rapor warga ini, serta perlu dibangun suatu sistem aplikasi yang memanfaatkan teknologi, sehingga  pengimplementasian kebijakan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Rapor warga ini memiliki tujuan positif, dalam mewujudkan masyarakat Kota Bandung yang guyub, semangat dalam gotong royong, saling bersilaturahim dan berbagi, serta mengurangi terorisme.  Namun tentunya, diperlukan kajian yang lebih mendalam sebelum diterapkan di wilayah Kota Bandung, untuk meminimalisir bentrokan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Pada tahun  2017 ini, Litbang Kota Bandung tengah menyusun Kajian yang berujudul : “Pengembangan Indeks Kemasyarakatan di Kota Bandung”, dengan sasaran diperolehnya indikator baku dalam rapor warga, petunjuk teknis pelaksanaan, serta pilot project di suatu kelurahan di Kota Bandung. Rapor warga/ Rapor Indeks Kemasyarakatan ini merupakan hal yang baru di Indonesia. Apabila berhasil, Bandung akan menjadi kota percontohan di Indonesia. Mari, kita bersama-sama membuat Bandung semakin baik 🙂

Mei, 2017

Wiedy Yang Essa – Calon Peneliti Pertama/ Analis Budaya Masyarakat di Bappelitbang (Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan) Kota Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s