Andilau

Malam ini saya lelah sekali. Entah, dengan jadwal hari ini di kantor yang padat merayap dan waktu istirahat yang tersedia hanya cukup untuk solat dan makan, yang sebenarnya harus nambah waktu relax dan me time (misal bobo siang, tiduran, main game, nonton korea, karoke. Mungkin nanti kalau saya udah jadi walikota diterapkannya ๐Ÿ˜‚). Barangkali saya harus pindah ke kewilayahan yang “sedikit” santai barangkali? ๐Ÿ˜

Ketika sampai waktunya untuk pulang, saya ingat sudah janji pada zuran, anak kedua saya untuk main ke pasar malam. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6, saya pun segera pesan gojek, dengan jalanan yang cukup macet, saya baru tiba di rumah jam 6. Setelah sampai di rumah, benar saja, zuran sudah merengek menagih. Ya janji adalah janji. Setelah sembahyang dan ganti baju, saya pun mengajak kakak Abdul dan zuran pergi ke pasar malam yang ada di komplek sebelah. Dan setelah setengah jam main kami kembali ke rumah.
Sampai rumah, huff.. makin terasa lelahnya. Badan berasa lunglai. Ketika ingin istirahat, anak-anak masih on fire. Mereka cari perhatian dengan mengacak-ngacak selai, main penggorengan yang belum dicuci, lempar-lempar donat, dsb. Di saat lelah seperti ini, dan harus menghadapi anak-anak yang masih aktif, amarah pun membludak. Saya marah ke Abdul, kenapa malah iseng, bukannya menjaga adik-adiknya. Saya marah ke zuran, kenapa gampang menangis kalau diganggu kakaknya. Sampai saya marahin neng Dodoy,anak paling kecil yang bicaranya pun belum jelas, karena ia ingin bermain dengan wadah berisi garam dan saya larang.

Setelah marah biasanya bukan tambah baik, saya malah menyalahkan diri sendiri. Aduh, Kenapa harus marah? Kenapa tidak bisa mengontrol emosi ? Padahal delapan jam anak-anak setiap harinya ditinggalkan, dan ketika saya pulang mereka hanya mendapat omelan?

Aahh.. rasanya ingin sekali merebahkan diri, ketika pikiran dan raga sudah di titik mumet, ingin kabur dan menjalani tidur yang berkualitas. Tapi kenyataan anak-anak yang makin menjadi-jadi tingkah laku aktifnya setelah saya marahi, saya belum bisa menyentuh kasur ๐Ÿ˜ฅ.

Akhirnya jika sudah di titik begini, pikiran saya mengembara ke pertanyaan : kenapa sih saya harus bekerja? Coba kalau saya di rumah saja, kan saya tidak akan capek begini. Sebenarnya, saya bekerja buat apa ya? Untuk mencari uang? Untuk mencari kedudukan? Untuk mendapat pujian dan kehormatan? Namun mengorbankan keluarga?

Ketika sejenak saya curi-curi scrolling timeline di Facebook, saya bertemu status sahabat saya yang isinya seperti ini :

170526094512 (1)
Kata-kata terakhir :
“Jadi sepertinya ceramah-ceramah bagaimana menjadi suami yang baik dan benar harus diperbanyak nih, dibandingkan melarang istri untuk bekerja, dsb”

“Kesalahan” disana mungkin tidak murni dari suaminya, tapi perempuan kekinian yang sering banyak di luar rumah. Menurut saya, seharusnya perempuan yang sekolah tinggi tidak usah gila jika tidak bisa bekerja atau berkontribusi. Perempuan sekarang banyak menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu dan identitas, menghamba pada aktualisasi diri dan prestasi, ketika remaja jarang di rumah, sehingga setelah menikah dan mempunyai anak harus kembali ke rumah itu sesuatu yang dapat membuat pikiran kurang waras. Sehingga ketika suaminya ingin istrinya di rumah, istrinya malah ingin bekerja ๐Ÿ˜. Ya itu juga sih yang terjadi pada saya. Sebenarnya bukan semata-mata untuk uang, tapi lebih ke ingin berkontribusi.

Kembali lagi, kepada niat untuk ibadah. Bekerja juga, jika niatnya untuk ibadah, Allah juga akan menghitungnya sebagai pahala.

Dan saya pikir, bekerja jam 8 sampai jam setengah 5 itu melelahkan (untuk PNS di Bandung yaa), karena wanita tetap punya kodrat untuk mengurusi rumah tangga , anak-anak dan suaminya. Seharusnya ada keringanan untuk kaum ibu, tapi apa kabar emansipasi yang katanya harus disetarakan profesionalisme nya?

Perenungan diakhiri dengan ANDILAU (Antara dilema dan galau) yangย tiada akhir.
Ya, beginilah ibu-ibu.
Semoga selalu dikuatkan dan ditunjukkan jalan kebenaran. Aamiin .

Bandung, Mei 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s