Sepucuk surat untuk suamiku

Suamiku, ketika aku menulis ini, usia pernikahan kita memasuki 7 tahun 5 bulan 16 hari. Waktu yang tidak sebentar, dengan 3 permata yang telah Allah titipkan pada kita, dan dengan ragam cerita yang berkesan setiap harinya. Tidak selalu indah, tidak selalu menyebalkan, namun semua bercampur menjadi rasa yang mewah.

Papah, begitu aku memanggilmu, karena engkau adalah ayah terbaik untuk anak-anak kita. Hal yg selalu membuat aku bangga adalah kau tak pernah menomorduakan keluarga. Setiap pulang kantor, pukul berapapun, kau selalu menyempatkan bermain dan merawat anak-anak. Bahkan dibandingkan aku, kau yang lebih telaten. Mengajari anak-anak membaca, menulis, menggambar. Mengingatkan anak-anak untuk sembahyang, sikat gigi, dan membaca ayat suci sebelum tidur. Menemani mereka membaca buku, latihan sepeda, bermain Lego.
Suamiku, kau punya semuanya yang dibutuhkan oleh anak-anak. Aku bangga, dan juga sangat beruntung.

Suamiku, mengenang masa lalu saat kita bertemu di bangku perkuliahan sangat menyenangkan. Ingat saat proses menuju ikrar kita yang rumit? Hingga saatnya satu tarikan nafasmu yang menghalalkan kita berdua adalah suatu keajaiban dan pertanyaan : Sanggupkah kita mengarungi perahu kehidupan dan membangun pondasi menuju Jannah Nya?

Suamiku , tak ada pernikahan yang sempurna. Tiada pelangi tanpa hujan, tiada kesuburan tanpa amukan gunung, tidak ada ketegaran tanpa krisis.
Gerimis kecil kadang datang di rumah kita. Kesalahpahaman sungguh hal yang biasa. Karena aku adalah seorang anak tunggal yang dibesarkan penuh kebebasan, dan engkau adalah anak tengah di keluarga besar yang ditempa mengalah dan disiplin, pastinya selalu butuh benang untuk menyambungkan kita berdua.

Maafkan aku suamiku, selama ini aku selalu egois. Memang katanya jika wanita zaman sekarang, entah karena pendidikan tinggi atau emansipasi, sulit untuk disuruh menurut. Terlebih aku, yang sedari kecil dididik untuk berekspresi, sehingga selalu sering menentang argumenmu.

Maafkan aku suamiku, aku yang belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Maafkan aku yang selalu banyak menuntut, terlebih perhatianmu. Maafkan aku yang egois, terkadang lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan keluarga.

Terimakasih suamiku..
Terimakasih telah menerimaku apa adanya. Terimakasih atas kemakluman bahwa aku punya janji untuk membahagiakan ibuku. Terimakasih atas izin dan ridhomu untuk aku bekerja dan mewujudkan mimpi-mimpiku yang lain. Terimakasih telah sabar menerima limpahan kerewelan yang tidak penting , keluh kesah yang absurd, serta cobaan dari mood rollercoaster-ku

Suamiku.. Terimakasih telah menjadi imamku.
Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan kebaikan untuk rumah tangga kita.

Bandung, Mei 2017
“Menuju tahun ke-8, dan puluhan tahun berikutnya “

18664568_1596154657064343_5112673599545304956_n

link tulisan selanjutnya : “Surat untuk 3 Permataku”

https://korhejdalle.wordpress.com/2017/06/02/surat-untuk-3-permataku/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s