Somebody else

So i heard you found somebody else”

Suaraku bergetar dan kaku. Gugup, kututupi dengan menghirup sedikit minumanku.

Lalu kulirik dia dengan sudut mataku.
Ia yang tampak tenang dengan raut muka wajar, sedang mengetik entah apa pada smartphone nya.

” Maksudmu, Amanda?”

Dadaku berdebar. Manusia yang paling bisa membaca tanpa menangkap getaran. Dia yang selalu tahu tanpa pernah kuberi tahu. Dia yang selalu bergelayut dalam ingatan, di setiap apapun yg kulakukan, sibuk atau rehat.

” Ya, she’s my girlfriend”

Dia begitu tenang mengucapkannya sambil menyeruput kopi pahit pesanannya.

Aku sudah tahu. Sudah tahu ketika aku tidak sengaja menangkap senyummu di depannya dari kejauhan. Sudah tau wanita berkulit langsat itu begitu cantik dengan rambut panjang terurai.

” Kenapa? ”
Lidahku yg kelu mengeluarkannya. Suara dan bibirku bergetar.

” Kenapa? Kenapa bukan kamu?” Ia menjawab.

Mata kami bertatapan. Kulihat sorot matanya yg tajam namun pedih. Tidak teduh seperti biasanya. Apakah dia marah?. Kenapa dia marah?. Apakah karena aku mengharapkan dia tidak bersama wanita itu?. Apakah aku tidak boleh menanyakan porsiku sendiri?.
Apakah aku salah?.

” Kenapa bukan kamu? Karena kamu egois”.

Sejak pertama aku mengenal dia. Baru kali ini perkataannya begitu kejam.
Tapi benar. Mungkin memang benar adanya.

“Aku menderita, dan hanya kamu yang bahagia. Tidak adil”.

Aku? Bahagia? Tidakkah dia tahu bahwa aku terombang ambing dalam kepiluan dan kebimbangan. Raga dan jiwa terkadang tidak menyatu hanya memikirkan masa depan.
Tidakkah dia tahu, bahwa aku yang paling menderita? Semakin lama aku menginginkannya, semakin jauh aku terperosok

” Biarkan aku melupakanmu..”, itu yang kemudian terucap dari bibirmu.

Sejak dulu aku ingin melupakannya juga. Mungkin ini salahku. Salahku, yang mengajaknya bermain-main dalam impian. Salahku yang memintanya menemaniku melewati hari.
Aku, yang menggunakan pisau untuk menusuk diriku sendiri.

Dia berdiri. Menatapku lama.
Aku tak berani mendongakkan kepalaku.
Tak ada kata yang dapat kuucapkan. Meskipun aku tahu, hari ini akan terjadi, tapi ternyata.. saking membuncahnya sedih di dada, air mata pun tak bisa tumpah.

” Terimakasih. Dan maaf”
Dia meninggalkan meja kami.
Dia pergi.
Dia pergi.

Kata-katanya masih terngiang di telingaku.
Jangan dikejar. Jangan.
Aku tak akan mampu.

……
Aku mengambil tasku dan meninggalkan meja setelah terlalu lama tertunduk tak menentu.
Berjalan keluar dengan langkah gontai.
Aku membayang hari ini akan tiba dari lampau.
Tapi ketika terjadi, rasanya tetap menyesakkan.
Aku, yang selalu menumpukkan hatiku padanya. Berbagi cerita dan drama.
Untuk esok dan seterusnya tak akan ada.

…….
Tiba-tiba handphoneku berdering. Ali mengambilnya dari dalam tas.

” Halo, mam?”
Ada suara malaikat dari sana..

” Mama dimana? Nisa sama ayah udah di kolam renang, mama jadi nyusul kan? ”

Tak terasa…
Ada yang menetes di sudut mataku.

” Ya, tunggu ya sayang. Mama sudah selesai di sini. Sebentar lagi mama datang.
I love you”

……..

Bandung, 2017

..

Inspired from Β *somebody Else*- by the 1975 (2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s