BBM NAIK UNTUK SIAPA?

“BBM naik!” Seperti yang dikemukakan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro pada malam hari di Jakarta tanggal 23 Mei 2008, BBM serempak naik di Indonesia dengan rata-rata kenaikan 28,7%  terhitung pukul 00:00 di 24 Mei 2008.

TABEL KENAIKAN

Jenis

Harga lama

Harga baru

Kenaikan

Premium

Rp. 4500 / liter

Rp. 6000 / liter

33,3%

Solar

Rp. 4300 / liter

Rp. 5500 / liter

27,9 %

Minyak tanah

Rp. 2000/ liter

Rp. 2500/ liter

25 %

 

 Dalam hal ini pemerintah melakukan tindakan paling instan,cara termudah dari berbagai jalur lain yang dapat ditempuh, dengan dalih untuk pengurangan subsidi, beserta diimbangi langkah-langkah stabilisasi seperti pembagian BLT ( yang katanya penyempurnaan BLT tahun 2005, sekarang namanya jadi BLT plus), pembagian raskin, pengembangan kredit usaha mikro dan pemberdayaan kesehatan serta pendidikan untuk rakyat.

Jika dicermati dengan seksama, peryataan seperti itulah yang sama dikemukakan pemerintah ketika tahun 2005 menaikkan BBM sebesar 126%! Pemerintah berkata tidak akan melakukan kenaikan BBM lagi, dan mengusahakan berbagai langkah solutif seperti penghematan belanja negara dan penghematan energi, pemberlakuan pajak progresif,penambahan lifting minyak (pengambilan minyak dari dalam perut bumi ke permukaan bumi), dan lain sebagainya. Selain itu usaha pemerintah yang berulang seperti tahun 2005, yaitu pembagian BLT kepada rakyat miskin- suatu solusi yang tidak efektif malah diberlakukan lagi! Lihat kenyataan yang terpapar di lapangan, menurut dinas sosial, BLT tahun 2005 efisiensinya hanya 54,9 %, dilengkapi angka gizi buruk pada balita yang malah merangkak naik, dan rakyat miskin yang makin bertambah! Tahun 2005, rakyat miskin 35,1 juta jiwa- tahun 2006 bertambah menjadi 39,3 juta jiwa dan tahun 2007 menjadi 37,19 juta jiwa. Solusi pemerintah dengan BLT = tidak mendidik rakyat Indonesia menjadi mandiri! BLT menumbuhkan mental peminta-minta, dimana BLT tidak pula mencukupi untuk menutupi kehidupan sehari-hari pun, karena harga yang merangkak naik tidak sebanding dengan Rp.100.000/bulan .Kemudian sejauh ini tidak ada pula yang dapat menjamin uang tersebut dipergunakan rakyat untuk pemberdayaan pendidikan, kesehatan dan usaha kerja! (kalo punya utang ya bayar utang dulu,setelahnya ya abis duitnya).

Selain itu, mekanisme penyaluran BLT pun sungguh menggelikan! Dengan dalih keterbatasan waktu dalam melakukan pendataan ulang, maka data penduduk yang menerima BLT tahun 2008 disamakan dengan data tahun 2005! Sungguh konyol, mendengar bahwa diantara warga yang menerima BLT tahun 2005, saat ini ada yang telah meninggal dan mendapat peningkatan pendapatan ( Catatan : BLT katanya dapat diwariskan.. apa pula ini). Belum lagi adanya pemekaran kecamatan dan desa selama 3 tahun ini, bagaimana nasib 2 kecamatan baru di Kota Bandung yang akhirnya tidak kena jatah pemberian BLT?!. Dan Bagaimana dengan pertambahan penduduk miskin? BLT hanya diberikan kepada 19,1 juta kepala keluarga, berarti hanya 51,35 % nya dari keseluruhan rakyat miskin di Indonesia! (data tahun 2007, red). Pengadaan pasar murah dengan anggaran 1,2 triliun dengan target bahan pokok Rp. 50.000 juga hanya digelontorkan untuk targetan 5 juta kepala keluarga saja. Bagaimana tidak akan menimbulkan chaos dan kericuhan yang diakibatkan kecemburuan di masyarakat?! Kita lihat data di lapangan terkait kasus-kasus BLT :

1.       10 oktober 2005 = warga kelurahan Rentang di NTB merusak kantor desa karena tidak mendapat jatah BLT disebabkan pendataan penerima BLT yang tidak akurat.

2.       21 oktober 2005 = ratusan warga di indramayu Jabar merusak kantor kepala desa. Puluhan warga desa di subang, memprotes hasil pendataan penerima BLT kepada ketua RT dan kepala desa, bahkan salah seorang ketua RT didatangi dengan membawa golok.

3.       27 april 2006 = 150 warga Kelurahan Pajeko di Palu, sulawesi tengah berunjuk rasa di kantor kelurahan setempat. Mereka protes karena tidak mendapat BLT tahap II.Warga mengamuk dan membakar papan nama kelurahan.

4.       Dan lain-lain

Fakta tersebut mengungkapkan bahwa penyaluran BLT memang bermasalah! Saat ini bahkan diberitakan di Madiun, 176 perangkat desa menolak BLT! Dan banyak daerah lainnya yang angkat tangan dalam urusan penyaluran BLT, karena memang- terbukti- rawan kericuhan.

Dan pertanyaan yang paling utama adalah sebenarnya kriteria warga miskin itu seperti apa? Apakah fenomena ini tidak malah membuat orang beramai-ramai mengaku miskin? (karena ga mau kalah, semua pengen kebagian BLT..) .Dan bagaimana dengan budaya mental orang indonesia yang gemar KKN?. Bukannya sistem ini akan melahirkan koruptor-koruptor kecil, dan oknum-oknum yang berusaha menyimpangkan dana BLT dan memperparah keadaan ? Belum lagi Biaya Pencetakan kartu BLT dan penyaluran yang menghabiskan Rp.2400 per kartu, sehingga menelan biaya operasionalisasi BLT dengan angka Rp. 730 milyar!

  Realita harga minyak

Indonesia hanya memiliki cadangan minyak sebesar 0,484% dari keseluruhan cadangan minyak dunia, atau hanya 2.75%  dari seluruh produksi minyak negara-negara anggota OPEC. Namun, cadangan tersebut mampu memenuhi sebagian besar konsumsi dalam negeri, sehingga pemerintah tidak 100% impor minyak. Realita yang terjadi, saat ini di pasaran dunia harga minyak melambung, mendekati 130 US dollar per barrel (1 barrel=159 liter), sehingga pemerintah yang bermental pedagang harus turut menaikkan harga minyak di indonesia terkaitan kenaikan harga minyak yang diimpor dari luar. Dalihnya adalah untuk penyelamatan APBN.Namun kenapa startegi penyelamatan APBN harus bersinggungan dengan kepentingan rakyat banyak,yang notabene rakyat kecil, mengapa tidak mengotak-atik subsidi utang negara dan obligasi rekapitalisasi dari bantuan likuiditas bank-bank kelas kakap? (Yang bisa dialihkan untuk masuk APBN). Kenapa juga tidak menyusun langkah-langkah penggenjotan pajak progresif dan pajak lainnya?. Yang harus difokuskan sekarang adalah penambahan pendapatan!

Pajak adalah salah satu sumber pendapatan yang menguntungkan. Dilihat dari kenaikan BBM tahun 2005, maka akan menimbulkan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM (Pajak Penjualan Atas Barang Mewah) (Sumber : Chandra budi, staf dep. Keuangan direktorat jendral pajak dalam Republika). Ditambah data nasabah dengan tabungan 100 juta – 1 milyar = 1,3 juta rekening dan tabungan 1 milyar- 5 milyar = 226 ribu rekening ( maaf-ga terlalu ngerti hubungannya, tapi kayaknya bisa nambahin pajak dari sini) .Saat ini selain penghematan di banyak departemen kurang efektif, tidak optimumnya kinerja aparat ditjen pajak- menyebabkan penerimaan pajak tidak meningkat! Pajak sebelum digunakan untuk kepentingan orang banyak sudah habis ditengah jalan!

Lifting minyak di negara kita juga patut diperhatikan, mengingat produksi kita hanya 927.000 per hari, bandingkan dengan masa orde baru yang mencapai 1,3 juta per hari! Penambahan minyak sebetulnya bisa dilakukan dengan membuka kompetisi pengadaan minyak dan tidak terus-terusan bergantung pada monopoli BUMN Pertamina. Mengapa tidak mengikutsertakan BUMD dan pemain lokal lain untuk turut andil dalam proses ini? . Sesuai dengan Pasal 33 UUD, maka pemerintah perlu memberi kesempatan kepada daerah tingkat lokal untuk berkompetisi dengan BUMN pertamina.Manfaatkan berbagai macam temuan, dan sosialisasikan informasi koordinat titik minyak baru yang selama ini dirahasiakan untuk otoritas pelaksana dalam negeri (Sumber : Rozi Soebhan, peneliti pusat pendidikan politik dan LIPI, dalam Republika). Dan yang terpenting adalah Stop Sumur minyak untuk penambang Asing! Perbaiki kontrak politik yang ada, karena Sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945: Bumi, air dan kekayaan yang ada di dalamnya dikelola negara sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyatnya! Bukan untuk membuat negara asing menjadi makin kaya raya, sementara kita hanya dijadikan buruh nya saja!

BBM NAIK UNTUK SIAPA?

Benarkah untuk rakyat? Seriuskah pemerintah mengedepankan kepentingan rakyat? Mengapa analisis realita yang terjadi sungguh sebaliknya?

Mahasiswa? Ngapain?

Presiden SBY : “Jangan hanya menjadi penonton, tanpa memberikan solusi..”

Jawaban : “Sudah berapa banyak rakyat yang berdemo dan meneriakkan solusi, tapi tak bapak dengar?”

Mahasiswa pro rakyat? Benarkah? Berapa % Mahasiswa di seluruh Indonesia yang sudah paham mengenai masalah ini dan turut andil dalam memperjuangkan kepentingan rakyat?? Apa benar mahasiswa yang akhirnya paham hanya bisa teriak saja?  Yang malahan niatnya ingin berteriak tapi ditambahi kepentingan pribadi dengan memanfaatkan momentum? Seperti bentrokan mahasiswa yang berdemo di UNAS dengan para polisi yang akhirnya malah memporakporandakan kampus (yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu)? Yang akhirnya ditangkap dan dipukuli hingga berdarah-darah, dan 55 orang diantaranya ternyata pengkonsumsi ganja dengan 3 orang sebagai pengedar narkoba? Benarkah mereka serius membela rakyat? Atau hanya demo untuk cari rame saja?

Harusnya malu menjadi mahasiswa yang tidak solutif.Sikap diam memang bukan berarti tidak berusaha. Tapi sampai mana diam itu terukur untuk menjadi solutif? Dan bukankah apabila kita melihat kemungkaran kita wajib merubahnya? Salah orang mengatakan kalau demo tidak berguna. Kalo tidak ada yang demo, bagaimana kerja pemerintah bisa dikritisi? Salah orang mengatakan kalo demo saja sudah cukup. Keseluruhan langkah yang terbaik adalah tercelup ke dalam proses kultural dan struktural. Sentuh rakyat dan suarakan kepentingannya ke pemerintah.

 Sudah terlalu lama kita diam dengan proses yang  tersia-siakan!

 Sudah terlalu lama kita terombang-ambing dan sibuk bentrok dengan perbedaan pendapat yang sepele!

Kini saatnya kita intropeksi, berbenah dan bergerak bersama!

Berjuta tangan menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat…

———————————————————————————————————-

Sumber :Harian Republika, Kompas, Koran Jakarta, Galamedia,MetroTV, situs-situs internet.

Beserta obrolan dan inspirasi dari beberapa rekan : Jaka Arya,Tri aji nugroho, Bobby Rahman, M. Rihan Handaullah,Nia, Riga, M. Ridho dan Bapakku tercinta.

(mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata-kata dan ketidakakuratan informasi. Adapun Segala Kesempurnaan hanya ada pada ALLAH SWT)

One response to “BBM NAIK UNTUK SIAPA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s