Rabu (6agustus08) pukul 19.00 di TV-one dilaksanakan debat terbuka pilwalkot Bandung 2008-2013.
disana hadir 3 pasangan kandidat (dan saya tampilkan juga tahun lahir dan daftar kekayaannya),yaitu:
No.SATU (dadakudadamu)
Dada Rosada lahir 1947 kekayaan : 3,483 milyar
Ayi Vivaninda lahir 1967 kekayaan : 337,348 juta
No.DUA (trendi)
Taufikurahman lahir 1961 kekayaan : 448,332 juta
Abu Syauqi lahir 1968 kekayaan : 1,695 milyar
No.TIGA (Hadi)
Hudaya lahir 1949 kekayaan : 7,666 milyar
Nahadi lahir 1971 kekayaan : 600,7 juta
Di babak ke-4, dimana ada sesi pemaparan dari setiap pasangan kandidat mengenai foto tentang keadaan kota bandung yg telah dipilih panitia, Dada Rosada menyatakan statement tentang perencanaan pembangunan PLTSa (Pusat listrik tenaga sampah).
DADA : “Kota Bandung memerlukan PLTSa, untuk menekan volume sampah yg ada sekarang. Sambil terus dilakukan 3R juga. Setelah masyarakatnya mulai mengerti tentang 3R, PLTSa baru kita stop”
Kemudian Pa Taufikurahman memberikan tanggapan :
“Di Negara lain, pembangunan PLTSa justru baru dibangun ketika kultur masyarakat tentang 3R telah berjalan baik. Sebaiknya begitu pula untuk kota Bandung”
DADA : “ Dari kapan masyarakat kota bandung kita ajak untuk melakukan 3R tapi sampai sekarang tak ada hasilnya?? Jadi solusinya adalah bangun dulu PLTSa, sambil terus jalan penerapan 3R, baru kita stop”
Pa hudaya juga ikut menyerang dada
“ Pembangunan PLTSa yang membutuhkan dana besar harus berakhir dalam jangka waktu tersebut? Tidak sustainable. Dan benarkah mau di stop ketika masyarakat telah mengerti 3R?”
Trus si DADA jawab apa lagi gitu.. lupa dan males juga dengerinnya lagi.
Yang langsung ada di pikiran saya saat itu adalah.. si DADA mirip indomie.
Dia maunya cepet, praktis, alias instan doang.
Dia mau urusan sampah di kota bandung cepet beres, kalo bisa pake jalur tol, tanpa memperhatikan berbagai elemen yg ada yg akan turut terkena imbasnya.
Saya sangat setuju dengan pendapat pa Taufik. Yang dikembangin dulu ya justru masyarakatnya. Bangun dan cerdaskan dulu komunitasnya, baru penerapan teknologinya.
Gimana bisa bangun PLTSa, tanpa masyarakat mulai sadar dan peduli tentang kompleksitas si sampah yang setiap hari mereka produksi ini.
Yang ada kalo bangun PLTSa masy. Bandung keenakan, mereka malah bisa-bisa lupa kalo harus nerapin 3R, pasti pikirannya ngerasa
“udah ada mesin penghancur sampah- gwa mau bikin sampah seberapa banyakpun ga masalah”
Dan seenaknya aja dia bilang kota Bandung udah lama disuruh 3R tapi ga jalan-jalan.
Emang dia udah berapa banyak usaha bikin masyarakatnya ngerti 3R??
Udah segimana sih pemerintah ngasih pencerdasan ke masyarakat tentang 3R ini??
Kenapa kayaknya cuman LSM yang banyak turun ke jalan, tanpa support dari pemerintahnya?
Dan emang si DADA ngerti gitu 3R kayak gimana?
Saya juga setuju dengan pendapat pa Hudaya si no.3
Alasan pa Dada bangun PLTSa not realistic, bayangkan berapa milyar dana yg harus dikucurkan cuman untuk suatu alat yg orang Indonesia belum biasa make, berapa banyak bahan bakar yang diperlukan untuk mengoperasikan si mesin ini, berapa truck yang berjejalan di area gedebage, dan berapa ppm pencemaran udara yang akan terjadi.
Cuman untuk nyembunyiin borok kota bandung.
Cuman ingin bikin orang-orang komsumtif terlepas dari dosa dia udah bikin ni kota jadi penuh plastik dan embel-embelnya.
Kalo emang ni kota borok, ya udah kasih liat aja!
Tunjukin ama warga kalo yg bikin ni borok ya warganya juga, bukan cuman salah pemerintah!
Sampah numpuk salah siapa?
Salah lo yang buang sampah tiap hari!
Salah lo yang tiap hari makan SNACK yg pake bungkus!
Salah lo ketika lo makan di kantin makanan lo ga habis!
Salah lo yang doyan jajan ke supermarket, bukan ke pasar tradisional!
Karena sampah lo = tanggung jawab lo!
Pemerintah cuman harus nyiapin fasilitas dan pencerdasan buat warga bandung mengenai hal ini.
Emang masyarakat GA BISA CEPET ngerti, semua juga butuh proses.
Dan yakin, sesuatu yang dimulai dengan bertahap bakal dapetin pembelajaran yang lebih baik daripada sesuatu yang praktis dan instan.
Mending pelan-pelan tapi pasti atau cepet tapi celaka?
INDONESIA BUTUH KEARIFAN LOKALNYA KEMBALI.
Dari alamnya, untuk rakyatnya, menjaga buminya.
Dada- pikir-pikir dulu sebelum ngomong dan bertindak!
Ni kota bukan MILIK LO SEORANG